Fika – Swedish sweet secret to success?

Oleh Yasmin Nabila

Swedia – sebuah negara yang terletak di belahan bumi bagian utara. Sering diasosiasikan sebagai negara Skandinavia yang dingin dan menjadi sasaran pemburu northern lights. Swedia juga terkenal seantero dunia karena grup musik ABBA dan produk IKEA mereka. 

Ngomong-ngomong IKEA, siapa sih yang nggak tau IKEA? Waktu pertama kali buka di Indonesia tahun 2014, IKEA langsung hits di sosial media. Semua orang penasaran buat nyobain swedish meatballs IKEA yang terkenal enak (dan murah) itu. IKEA juga punya daya tarik tersendiri berupa konsep unik yang khas; bangunan dengan tata letak yang dirancang sedemikian rupa supaya para pengunjung bisa benar-benar menjelajah ke seluruh bagian toko, tidak seperti toko pada umumnya di mana pengunjung bisa bebas melihat ke bagian tertentu saja.

Di bagian ruang pameran, pengunjung dipersilakan untuk ’uji coba’ perabotan yang ingin dibeli mulai dari tempat tidur, sofa, kursi dan lain sebagainya. Barang pilihan pun harus diambil secara mandiri di self-service warehouse yang artinya pengunjung juga harus merakitnya sendiri di rumah.

Just sleep on it. (Sumber: IKEA Singapore)

Selain IKEA, masih ada deretan inovasi Swedia yang juga mendunia seperti Skype, Spotify, H&M, Ericsson, dan Cheap Monday. Bahkan di tahun 2016, European Innovation Scoreboard menobatkan Swedia sebagai innovation leader, diikuti oleh negara tetangga seperti Denmark dan Finlandia serta Jerman dan Belanda. Berdasarkan penelitian tersebut, Swedia menunjukkan performa terbaik di segala aspek yang diuji, merefleksikan suatu negara dengan keseimbangan yang stabil di bidang penelitian dan inovasi. Kondisi kerangka keuangan Swedia pun dianggap siap untuk mendukung berbagai aktivitas riset dan pembangunan dengan baik.

Saat memutuskan melanjutkan studi magister di Swedia, fokus akan inovasi pun menjadi faktor yang makin memantapkan pilihan saya pada program Food Technology and Nutrition di Lund University (LU). Beberapa merek seperti Tetra Pak, Oatly dan Proviva merupakan wujud keberhasilan nyata dari dikembangkannya penelitian akademik di LU menjadi entrepreneurial enterprises. Adanya link yang kuat dengan industri-industri lokal di Swedia juga memberikan para mahasiswa suatu kemudahan untuk berinteraksi langsung dengan para profesional di bidangnya melalui pengajar undangan, kunjungan studi, juga berbagai proyek penelitian.

Oatly and its creative campaign (Sumber: Twitter @OatlyAB)

Hingga pada suatu waktu, sebuah pertanyaan dan analisis yang super random muncul dalam benak saya: so, how come Swedes have such creative minds? Is it… (silent moment of intense thinking)… the coffee they drink everyday?

Sumber: GIPHY

Pemandangan anak muda yang sedang ngopi-ngopi cantik di kafe sekitaran kota menjadi salah satu hal yang menarik bagi saya di masa-masa awal tinggal di negara ini. Swedia memang punya budaya Fika yang bisa diartikan sebagai aktivitas coffee break. Though actually… fika is way, way more than that. Fika menjadi “alasan” bagi orang-orang Swedia untuk rileks and catch up bareng teman atau keluarga, suatu interaksi sosial yang sudah menjadi bagian dari gaya hidup mereka. Saya pun, sebagai mahasiswa yang sudah tinggal lebih dari setengah tahun di sini, tak luput dari godaan aroma kopi dan legitnya cinnamon bun. Entah sudah kali keberapa saya ber-Fika ria dari kafe ini ke kafe itu, baik untuk sekadar hang out bersama teman atau dengan tujuan lain seperti mengerjakan tugas. Fenomena Fika ini terasa juga pengaruhnya pada intensitas ngopi saya, di mana satu-dua bulan pertama saya masih minum kopi instan yang dibawa dari Indonesia, sekarang dengan senang hati pun sanggup minum kopi pahit tanpa gula.

Fika everyday, everytime

Kembali lagi ke pertanyaan tadi, jika mengutip kalimat yang ditulis Maria Konnikova di The New Yorker, gagasan kreatif dan solusi inovatif seringkali muncul ketika kita berhenti memikirkan problematika tertentu dan membiarkan pikiran kita beralih ke hal lain yang tak ada kaitannya. Let your mind wanders, she said again. Bayangkan saja seorang seniman yang membutuhkan inspirasinya untuk mulai bekerja, inspirasi yang kadang membutuhkan kadar imajinasi tinggi. Padahal, jika melihat mekanismenya pada kopi, kafein bekerja sedemikian rupa dalam membuat tubuh kita terasa lebih segar, fokus, dan mampu berkonsentrasi penuh. Yah, sulit dong untuk membiarkan diri hanyut dalam imajinasi?  

Namun, proses kreatif ada hubungannya juga lho dengan ritual kita sehari-hari. Karena ritual – dalam hal ini meminum kopi – ternyata bisa memicu kreativitasmu! Sebagai contoh, seorang penulis yang punya ritual minum kopi sebelum mulai menulis punya tendensi untuk lebih termotivasi dalam menuangkan isi pikirannya dalam halaman demi halaman. Ritual Fika di Swedia dilakukan selain memang karena budaya, juga karena tingkat produktivitas sebagai hal yang dipertimbangkan. Banyak perusahaan di Swedia yang menerapkan konsep mandatory fika breaks di tempat kerja, yang walaupun hanya 10 menit namun dapat menjadi sarana sesama karyawan untuk ngobrol santai sambil berbagi ide. Hal ini dibuktikan dengan Swedia yang meraih peringkat 11 sebagai negara paling produktif dari 34 negara lainnya di tahun 2014. Mayoritas universitas di Swedia juga memiliki aturan 15 minutes break di sela-sela jam pelajaran, di mana waktu tersebut dimanfaatkan para mahasiswa untuk membeli kopi atau sekadar mengistirahatkan pikiran sejenak.

Nah, sebenarnya gimana sih pengaruh kafein dalam kopi itu sendiri dalam membantu otak kita untuk berpikir? Apalagi tadi juga dibahas soal ritual minum kopi seorang penulis yang berpengaruh dengan kreativitas. Dalam sebuah penelitian di University of East London tahun 2011, sekelompok psikolog ingin menguji efek kafein pada kemampuan pemecahan masalah dan respons emosional melalui double-blind study, di mana 88 peminum kopi diberi cangkir kopi berkafein dan tanpa kafein (decaf) secara acak. Setelah diminta menyelesaikan sebuah permainan berupa memilah setumpuk kartu, subjek yang meminum kafein namun diberitahu bahwa apa yang mereka minum adalah kopi decaf menunjukkan tidak adanya peningkatan kecepatan selama pengujian berlangsung. Sebaliknya, subjek yang meminum kopi decaf namun percaya bahwa kopinya mengandung kafein terbukti lebih unggul karena mampu memilah kartu lebih cepat.

Sumber: Pinterest

Kesimpulannya, sehebat apa pun kafein dalam kopimu, tak ada yang bisa menandingi hebatnya pikiran seorang manusia yang selalu dilatih untuk berpikir sekreatif mungkin. Sesekali, cobalah lakukan sesuatu yang spontan, jalan-jalan ke suatu tempat, coba hal baru, gunakan imajinasimu! Karena tentu saja para inovator di Swedia pun tidak serta-merta menciptakan brand-brand keren mereka hanya dengan meneguk segelas kopi.

Allow your mind to wander every now and then for every cup of coffee you take 🙂

Leave your comment here: