Hidup di Koridor

Setelah menulis tentang tips-tips mencari akomodasi, di tulisan kali ini saya mau cerita soal beberapa pengalaman yang didapatkan selama tinggal di dua akomodasi yang berbeda selama setahun belakangan ini.

Tentang Corridor Accommodation

Waktu pertama kali mengurus keberangkatan di Swedia, akomodasi jadi salah satu poin yang paling penting buat saya mengingat tempat tersebut akan menjadi rumah kedua yang akan ditinggali selama dua tahun. Oh iya, bisa dibilang mahasiswa internasional di Lund University termasuk beruntung lho karena diberi jaminan soal tempat tinggal, soalnya ga semua universitas di Swedia memberlakukan hal yang sama. Apalagi teman-teman dari EU, sempet tau soal beberapa dari mereka yang bahkan masih mencari akomodasi padahal masa perkuliahan udah mulai jadi harus numpang di tempat orang (entah kenal maupun ga kenal). Sebuah bukti nyata sulitnya dapet tempat tinggal di Swedia.

Setelah pengumuman penerimaan kuliah sekitar bulan April 2016 dulu, ga beberapa lama kemudian datanglah info soal cara mengurus akomodasi dan beberapa hal teknis lainnya tentang Arrival Day dan Orientation Week. Pihak akomodasi kampus (Lund Accommodation) memberikan keleluasan bagi para calon mahasiswa untuk membuat lima pilihan utama, dimana itu akan jadi pertimbangan mereka dalam menempatkan kami semua. Info yang harus diisi cukup spesifik dengan tambahan seperti apakah lokasi lebih diprioritaskan, atau tipe akomodasi yang lebih penting (koridor, studio).

Beberapa waktu kemudian akhirnya dapet e-mail pemberitahuan kalo ternyata saya ditempatkan di akomodasi yang sama sekali ga ada di list pilihan kemarin. Setelah diingat-ingat, kayanya ini gara-gara waktu itu kelamaan waktu nentuin pilihan. Emang sih, dulu saya sampai baca satu persatu deskripsi tiap akomodasi dan membandingkan berbagai aspek, mulai dari harga, fasilitas serta jaraknya dari kampus. Tapi, bisa juga karena pilihan saya juga jadi preferensi mayoritas mahasiswa lainnya. Beberapa akomodasi, khususnya yang merupakan bagian dari AFBostäder emang sangat populer karena harganya yang student-friendly juga lokasi yang strategis.

Ngomong-ngomong, waktu pertama kali denger istilah ‘corridor accommodation‘ saya langsung punya banyak pertanyaan karena istilah itu asing banget. Apakah bentuknya sama aja kaya kos-kosan di Indonesia pada umumnya? Kenapa disebut koridor, ya?

Corridor life (Sumber: afbostader.se)

Setelah baca-baca lagi deskripsi soal corridor room, penyebutan koridor digunakan salah satunya ialah karena bentuknya yang biasanya emang literally koridor; lorong panjang dengan beberapa kamar di sisi kanan dan kiri. Saya juga dapat gambaran yang lebih jelas setelah nonton dua video Youtube di bawah. Setiap kamar memungkinkan para penghuni buat punya ‘kehidupan pribadi’ di dalam kamar masing-masing walau harus berbagi dapur bersama teman-teman satu koridor. Untuk kamar mandi pada umumnya ada di setiap kamar, tapi ada juga yang konsepnya shared bathroom.

Hari-hari di Linero

Bulan Agustus 2016 tiba, dimulailah chapter kehidupan saya di Swedia. Sesampainya di kosan baru, saya menemukan bahwa koridor saya bisa dibilang beda dibandingkan koridor lainnya. Bahkan bentuknya ga bener-bener koridor! Begitu masuk pintu, langsung ada dapur dan ruang makan yang dikelilingi oleh ruang-ruang kamar. Saya pun hanya berbagi tempat dengan 3 orang lainnya padahal umumnya satu koridor ditempati 10-12 orang. Kesan pertama saya untuk akomodasi satu ini adalah kebersihannya yang patut dipuji. Semuanya pun masih brand new karena saya adalah penghuni pertama tempat ini.

The perks of living in the 5th floor? The view (of course)
Dapur IKEA karena #IniSwedia

Setelah tinggal beberapa lama di sini, drawbacks-nya mulai terasa. Pertama, lokasinya berjarak sekitar 3 km dari kampus. Dengan harga yang terbilang mahal dibanding kebanyakan kosan di Lund, priviledge lokasi yang oke kayanya bisa bikin itu jadi impas. Sayangnya, kalo mau ke kampus butuh waktu sepedaan 20 menit karena harus melewati beberapa seri tanjakan menuju bukit LTH (dari manapun kalo mau ke Fakultas Teknik harus gowes sepeda dengan energi ekstra).

How my friend reacts knowing I live in Linero (Sumber: Lund’s Memeversity)

Kedua, ternyata banyak juga fault reports yang harus saya laporkan, khususnya fasilitas laundry yang rusak secara rutin, bisa 2-3 kali dalam sebulan. Masalah-masalah lainnya juga turut bermunculan, seperti parkiran sepeda yang dianggap kurang layak, kotak surat yang baru datang setelah penantian dua bulan lamanya, hingga penghangat ruangan yang belum juga nyala padahal udara udah makin dingin. Problematika ini ga juga berakhir walaupun kami para penghuni mengajukan petisi sebagai bentuk protes, yang alhamdulillah direspon dengan baik oleh sang landlord dengan cara penurunan harga sewa walau cuma buat satu bulan.

Tunggu, kok kayanya tinggal di sini ga ada enak-enaknya, ya?

Sebenernya dulu merasa terselamatkan berkat teman-teman koridor yang baik. Selama beberapa bulan, saya tinggal bersama tiga exchange students. Gavin dari Australia, Almu dari Spanyol serta Pauline dari Prancis. Sejak awal, pas ngobrol-ngobrol udah kerasa nyambung satu sama lain sampai akhirnya lumayan sering juga ngadain acara masak-masak bareng. Kadang juga ngundang temen masing-masing yang dilanjut main kartu atau lanjut main ke tempat lain rame-rame. Beberapa kali juga kami bikin movie night di living room dadakan dengan cara gelar duvet dan bawa bantal ke ruang makan sekaligus dapur, berhubung koridor kami ga dilengkapi common room.

Habis ujian terbitlah Sherlock-marathon

Sedihnya, sebagai satu-satunya yang akan menghabiskan dua tahun waktu di Swedia, saya pun harus merasakan satu demi satu kepulangan mereka ke negaranya masing-masing. Jujur walau baru tinggal bareng enam bulan, tapi beneran sedih pas mereka semua pulang.

Linero will not be the same!
Keeping in touch

Pindah ke kosan baru

Bulan Februari 2017, akhirnya kabar baik yang ditunggu-tunggu datang juga. Setelah antre sejak enam bulan sebelumnya di AFBostäder, saya pun dapet kamar di akomodasi bernama Delphi yang posisinya cuma selemparan batu dari kampus (baca: 3-5 menit bersepeda, 7-10 menit jalan kaki). Selain jadi nyantai urusan berangkat ke kampus karena deket, uang yang kadang dikeluarkan untuk beli kartu transportasi bulanan juga bisa dialihkan untuk hal yang lebih penting. Oiya, letaknya juga sangat strategis karena dikelilingi supermarket yang harganya murah! Hehe. Satu lagi, selama musim panas ga perlu bayar uang sewa :))

Sebenernya sebelum pindah sempet kepikiran sesuatu, gimana ya rasanya tinggal di koridor bareng sepuluh orang atau lebih? Di kosan lama, hidup hanya dengan tiga orang tentunya bisa lebih terkondisikan khususnya soal kebersihan. Selain itu, saya juga sempet nanya ke satu temen yang pernah tinggal di Delphi dan dia pun memberi warning soal Delphi yang terkenal jadi pusat student life di Lund (kehidupan student party sih maksud khususnya). Jadi tiap weekend harus siap-siap denger hentakan musik yang bisa kedengeran dari mana-mana (FYI area Delphi luas banget, kadang mau cari gedung lain aja bisa nyasar). Informasi tersebut cukup jadi bahan pertimbangan tambahan yang menarik, walau ujung-ujungnya saya memang tetep milih pindah. Menurut saya hal itu ga terhindarkan karena emang udah jadi resiko tinggal di kos-kosan mahasiswa. Mungkin kalo mau bener-bener punya peaceful time ya harus nabung dan cari apartemen bentuk studio yang hening dari keramaian, entah di Lund ada atau ga ya? Kayanya hari Jumat sama Sabtu dimana-mana ya rame mahasiswa. Saya juga bukan tipe orang yang menggunakan kamar sebagai tempat belajar, jadi insya Allah gangguannya ga signifikan.

Setelah prosesi pindahan yang cukup ribet karena baru sadar waktu beres-beres bahwa saya punya barang dengan jumlah tak terduga sampai harus sewa moving help, akhirnya settled juga di kosan baru. Di sana saya tinggal bersama 12 orang lainnya, dengan total 13 kamar di dalam satu koridor. Uniknya, setelah sebelumnya hanya tinggal dengan sesama mahasiswa internasional, sekarang saya tinggal di lingkungan yang mayoritasnya diisi orang Swedia. Di koridor ini pun dari 13 orang, ada 9 orang mahasiswa asal Swedia.

Hal ini sungguh menarik buat saya karena udah sering denger banget cerita soal sifat dingin orang-orang Swedia. Menyaksikannya sehari-hari cukup menambah wawasan saya, karena saya bisa tarik kesimpulan kalo mereka dingin kalo kamu ga benar-benar kenal mereka. Sekarang udah jalan 9 bulan hidup bersama mereka dan saya bisa bilang walaupun dingin, sebenernya mereka seru banget buat diajak berteman. Saya juga jadi bisa nyobain hal-hal yang ga akan bisa didapatkan kalo ga tinggal bareng orang Swedia, seperti nyobain herring dengan cara yang ‘Swedish’, dinner sambil nyanyi-nyanyi drinking song di sittning, dan yang paling bikin semuanya semangat: Tour de Chambre.

Selama ini emang koridor saya ga pernah menginisiasi party apapun, which was quite surprising. Akhirnya awal bulan November lalu, kami pun berhasil mengadakan Tour de Chambre (TDC) yang udah ditunggu-tunggu dan sempat gagal sebelumnya. TDC is a typical student corridor thing, sederhananya suatu acara dimana semua anggota koridor ‘mengunjungi’ satu persatu kamar lainnya. Sebelum acara, semua saling menyiapkan dekorasi kamar masing-masing beserta drinking games yang relevan dengan tema yang diusung saat itu.

TDC kami kemarin bertema ‘Hometown‘ dan semuanya menyiapkan sebuah permainan dan minuman khas dari masing-masing kota asal. Serunya lagi, semua teman di koridor menyiapkan minuman non-alkohol khusus buat saya! Haha ga nyangka mereka bakal se-caring itu. Acara pun dimulai dan saya ga berenti untuk merasa impressed dengan kreativitas mereka dalam membuat permainan dan mendekorasi kamar! Salah satu teman yang berasal dari kota penghasil kentang terbesar di Swedia membuat sebuah permainan unik dimana kita semua harus memilih berbagai alat pengupas kentang yang super aneh, seperti tang atau gunting untuk akhirnya berkompetisi mengupas kulit kentang terpanjang. Minuman yang disuguhkan juga ga kalah inovatifnya, yang paling berkesan sih waktu nyobain minuman temen yang pernah kerja jadi bartender, yaitu campuran blueberry smoothies dan krim susu. Sebagai penutup TDC, sampailah kami di kamar saya dimana mereka sempet bingung waktu saya kasih mereka secarik kertas dengan beberapa baris lirik. Lirik tersebut adalah bagian dari permainan Ular Naga Panjangnya dan mereka semua harus nyanyi rame-rame! Kehebohan tersebut dilanjut dengan minum Wedang Ronde yang seperti sudah saya duga, mereka suka banget dan minta dibikinin lagi kapan-kapan.

Acara-acara seperti ini bikin penghuni koridor jadi semakin mengenal satu sama lain sehingga hidup bareng belasan orang ga jadi hal yang membebankan. Alhamdulillahnya juga semua teman saya bisa saling jaga kebersihan, hal ini makin membuat saya ga menemukan masalah yang bisa bikin ga betah. Hal menarik tambahan, karena semua orang punya kebiasaan uniknya masing-masing, kita juga bisa saling belajar dan termotivasi. Ada salah satu teman yang selalu makan menu sehat dan rajin olahraga yang berhasil bikin saya juga terinspirasi memikirkan bahan makanan yang sama sehatnya. Ada juga yang dengan sukarela bantu saya belajar bahasa Swedia dengan ajak saya ngobrol dengan bahasa Swedia sederhana sehari-hari.

So, you’ve reached the end of this long post. Terima kasih sudah membaca dan semoga tulisan ini bisa memberimu gambaran ya soal gimana rasanya hidup komunal bareng orang-orang dengan latar belakang dan cara hidup yang berbeda-beda.

Oleh:
Yasmin Nabila - Lund
Master Programme in Food Technology and Nutrition
Lund University
Leave your comment here: