Kuliah di Swedia: Apa harapan kamu?

Fashion yang keren. Musik elektronik hits. Toko furnitur terkemuka. Kemajuan di bidang pembangunan berkelanjutan, termasuk penanganan limbah yang sering dijadikan acuan. Apa lagi yang terlintas di pikiranmu ketika mendengar kata Swedia? Lalu, apa yang kamu bayangkan ketika kamu mendengar bahwa kamu akan melanjutkan kuliah di Swedia?

Berhubung sekarang sudah hampir dua tahun Sania menjalani kuliah di Swedia sepertinya sah jadinya kalau bercerita pengalaman supaya kamu yang baru akan kuliah di sini jadi ada bayangan, bagaimana nanti saat kuliah S2 (atau S- lainnya) di salah satu negara Skandinavia ini. Kemudian juga tidak mengulangi kesalahan yang sama, seperti membawa setrika baju yang tidak diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika mengingat kembali waktu di mana belum paham seluk beluk kuliah di Swedia, rasanya hal-hal inilah yang pantas diberitahu lebih awal untuk mengantisipasi harapan calon mahasiswa di Swedia:

Berkembang secara pribadi dan antar individu

Sebagian dari teman-teman di program Master in Sustainable Development Uppsala University
Sebagian dari teman-teman di program Master in Sustainable Development Uppsala University

Betul sekali, saat kamu kuliah di luar negeri secara otomatis akan memiliki teman dari berbagai negara, kebudayaan, serta kebiasaan baru. Faktor-faktor dari luar ini secara langsung maupun tidak, mengubah cara berpikirmu. Contoh kecil semisal di keluarga dan pergaulan di Indonesia kamu semua orang mengonsumsi daging kemudian saat tinggal di Swedia banyak dari teman-teman mu tidak mengonsumsi daging, maka besar kemungkinan kamu untuk mengevaluasi diri dan mungkin akhirnya kamu jadi tidak makan daging lagi.

Budaya kelas di Swedia berbeda dengan Indonesia. Di sini, memanggil dosen dengan nama depan beliau adalah praktik umum. Mungkin ada yang berpikir bahwa dengan melakukan hal tersebut maka rasa hormat di Swedia tidak sebesar di Indonesia, yang terjadi justru sebaliknya. Bagi masyarakat Swedia, semua orang pantas dihormati dan dihargai karena masing-masing individu memiliki kepandaian yang orang lain tidak punya. Hal ini membuat nihilnya struktur di akademik dan industri yang membolehkan peluang partisipasi tiap orang sama besar. Mungkin kata nihil kurang tepat tapi struktur yang linear. Budaya “asal bapak senang” atau “yang di atas selalu benar” itu sangat jarang ditemui di sini. Contoh lain, sebagai pelajar yang sedang magang, kamu memiliki suara yang legit di perusahaan atau institusi tempat kamu magang. Menyenangkan bukan?

Tips untuk berteman dengan orang Swedia dari Pak Suryadi, mahasiswa veteran dari Stockholm University angkatan….lama banget mungkin tahun ’60an: senyum dan sapa. Sifat umum orang Swedia adalah pendiam sehingga kita sebagai orang baru di negara ini harus aktif dan sopan untuk mencari teman baru. Belajar bahasa Swedia juga membantu untuk memperlancar proses ini, mereka senang ketika orang lain menghargai dan berminat untuk mengetahui bahasa mereka. Bukankah kita juga seperti itu ketika ada teman dari luar negeri yang tertarik untuk belajar Bahasa Indonesia?

Semakin menghargai alam

Cari jamur di hutan (Sumber: Sania)
Cari jamur di hutan (Sumber: Sania)

Ketika enam bulan dalam setahun diselimuti dengan dingin dan kegelapan, maka terik matahari menjadi harta yang paling berharga. Kemudian kamu semakin sering keluar rumah dan bergerak saat waktu itu tiba. Bisa jadi makan siang di bawah pohon atau belajar sambil sunbathing di taman, kamu beradaptasi menjadi orang Swedia yang mencari matahari di mana pun. Allemansrätten, hak bagi masyarakat umum untuk dapat mengakses alam memungkinkan kita untuk hiking, camping, kayaking sampai memetik berries dan jejamuran di hutan. Hak ini mendorong banyak orang untuk semakin sering beraktivitas di luar. Menurut Sania, ini juga didukung dengan sejuknya iklim di Swedia dan binatang buas yang jarang ditemui (meski tahun lalu sempat berpapasan dengan ular beracun di kepulauan bagian barat Swedia). Tick adalah salah satu ancaman di alam bersahabat Swedia yang perlu kita ketahui sehingga kita bisa menikmati aktivitas di luar dengan nyaman.

Saat kalian sampai di Swedia musim gugur nanti, coba ke hutan di sekitar kota untuk mencari jamur. Namun, kalian harus mengetahui mana jamur yang bisa dimakan dan mana yang tidak karena akibatnya bisa fatal. Ajak salah seorang teman yang seorang forager untuk lebih aman! Di musim dingin, sekitar Januari – Februari, coba jalan di atas danau yang beku. Sekali lagi, pergilah dengan orang yang mengetahui trik dan tips untuk melakukan aktivitas ini dengan aman. Kemudian di musim semi dan panas, kunjungi taman nasional di Swedia untuk hiking atau camping. Atau mungkin pergi kayak, jangan ragu untuk mencoba olahraga di luar! Bagi yang hobi fotografi, pergantian musim di Swedia menyediakan peluang foto yang unik dan harus dimanfaatkan.

Mengasah keterampilan masak

Saat mengadakan makan malam khas Indonesia ke khalayak internasional
Saat mengadakan makan malam khas Indonesia ke khalayak internasional

Fried chicken bukanlah makanan yang sering dijumpai. Abang bakso dan sate tidak ada lagi lewat di depan rumah setiap hari. Warteg pun hanya kenangan belaka. Untuk bertahan hidup, kita harus bisa masak makanan sendiri. Di kampus dan perkantoran banyak disediakan microwave untuk menghangatkan lunchbox seakan mendorong orang untuk membawa bekal sendiri. Hidup hemat dan membuat kita lebih sadar akan hal-hal yang kita konsumsi. Sebelum berangkat ke Swedia, rajin-rajin lihat ibu atau mbak masak dan catat resep. Selain untuk diri sendiri, bukankah kita pelajar di luar Indonesia adalah perwakilan negara? Dengan kemampuan memasak makanan Indonesia, kita sudah mempromosikan tanah air kita ke mata dunia. Bukalah mata teman-teman manca negara mu dengan masakan sedap nusantara (sesuai dengan diet preference mereka, banyak Sania temui teman-teman dengan berbagai alergi dan diet makanan).

Semoga menjadi lebih semangat untuk memulai studi di Swedia. Kalau ada pertanyaan atau ingin diskusi, silahkan email ke: sania(dot)studyinsweden(at)gmail(dot)com.

 

Oleh:
Made Sania Saraswati - Uppsala
Master Programme in Sustainable Development
Uppsala University

 

Leave your comment here: