Mahasiswa dan Winter, A Love-Hate Relationship

Winter datang! Sebagian besar mahasiswa yang berasal dari negara tropis, termasuk Indonesia, tentu menantikan datangnya musim ini. Membuka jendela kamar dan tampak pemandangan putih diselimuti salju, bermain bola salju, bahkan membuat snowman. Pemandangan dan pengalaman yang tidak pernah dilihat dan dirasakan di Indonesia memberikan antusiasme tersendiri.

Suasana winter di Segerstedthuset – Uppsala University Administration Building

Namun, siapa sangka di balik keindahan salju, ada tantangan yang siap menanti para pendatang baru di winter yang dingin dan gelap ini. Rutinitas yang telah menjadi kebiasaan di negara asal terpaksa harus diubah agar bisa beradaptasi di negara ini.

  1. Malam yang panjang

Di Indonesia, kita tentu terbiasa dengan rutinitas yang didasarkan oleh cahaya matahari. Ketika matahari mulai terbit, kita bangun untuk menyiapkan sarapan dan bersiap memulai aktivitas. Saat matahari terbenam, berarti sudah saatnya pulang ke rumah, mengerjakan tugas, atau menghabiskan waktu bersama keluarga. Kebiasaan ini tentu tidak bisa diterapkan saat winter di Swedia, di mana matahari baru terbit sekitar jam 8 pagi dan sudah terbenam pukul 3 sore. Apabila kuliah dimulai jam 8 pagi, artinya kita harus bersiap saat di luar masih gelap bahkan memulai perjalanan saat matahari belum tampak. Tak jarang kelas baru berakhir pukul 4 sore dan di luar sudah gelap gulita. Pergantian gelap dan terang merupakan sinyal penting untuk ritme sirkadian tubuh yang terhubung dengan proses biologis, seperti istirahat, beraktivitas, tidur, dan bangun. Sederhanya, ketika hari terasa singkat, maka kecenderungan tubuh membutuhkan tidur semakin besar.Hal ini tentu menjadi tantangan terberat bagi mahasiswa internasional yang belum terbiasa dengan siklus siang-malam seperti ini. Terlebih saat deadline tugas semakin menumpuk. Namun, bagi beberapa orang yang menyukai gelapnya malam dan tenangnya lingkungan di Swedia, hal ini tentu memberikan kenyamanan tersendiri.

  1. Konsumsi vitamin D

Di Indonesia yang memiliki intensitas matahari yang sangat cukup sepanjang tahunnya, mengkonsumsi suplemen vitamin D tidak pernah menjadi bagian dari kebutuhan pokok. Lain halnya di Swedia, negara yg berjarak 10.000 km bagian utara dari Indonesia. Siang yang singkat dan minimnya intensitas sinar matahari di negara bagian utara bumi ini membuat para penduduknya kekurangan vitamin D. Merasa lelah dan tidak bertenaga, walaupun sudah beristirahat dengan cukup di malam hari merupakan gejala kekurangan vitamin D. Hal ini tentu tidak boleh dianggap remeh karena mempengaruhi kesehatan, khusunya para mahasiswa yang memiliki banyak aktivitas.

  1. Penerangan buatan

Efek cahaya buatan yang berasal dari lampu memang belum terbukti secara ilmiah terhadap tubuh, tetapi sebagian besar orang merasa relaks dan bugar kembali ketika berada di lingkungan yang memiliki intensitas cahaya tinggi saat winter. Tak ayal, lampu menjadi salah satu barang elektronik terlaris di Swedia selama winter. Berbagai jenis lampu dalam berbagai bentukdapat ditemukan di berbagai toko yang kemudian dipasang di berbagai sudut rumah. Pemandangan lampu di antara putihnya salju tentu menjadi nilai tambah keindahan yang bisa dinikmati di kegelapan yang cukup panjang.

Di Uppsala University, para mahasiswa bisa secara gratis menggunakan The Light Room yang buka selama jam kerja. Fasilitas ini menyediakan ruangan dengan intensitas cahaya yang dibuat seolah saat musim panas di Swedia. Tujuan dari adanya fasilitas ini adalah untuk memenuhi kebutuhan tubuh terhadap cahaya yang sangat minim saat winter.

  1. Waktu sholat

Bagi yang beragama Islam di Swedia, aplikasi waktu sholat akan menjadi salah satu aplikasi yang paling sering dibuka. Jam masuknya waktu sholat cukup fluktuatif karena bisa saja habisnya waktu sholat di minggu lalu akan berbeda dengan minggu ini. Misalnya, hari ini Ashar dimulai pada pukul 14.30 dan Maghrib pada pukul 16.00. Jadwal ini tidak bisa dijadikan patokan sepanjang musim karena bisa saja satu minggu kemudian Ashar telah dimulai pada pukul 13.00 dan sudah memasuki Maghrib pada sekitar pukul 15.00. Kita tentu tidak ingin ketinggalan waktu sholat, bukan?

Suka-duka serta perjuangan menuntut ilmu dengan siklus siang-malam yang tidak  biasa seperti di Swedia tentu akan menjadi tantangan dan pengalaman hidup yang unik dan tidak akan terlupakan.

Oleh:
Sekar Sedya Pangestika-Uppsala
Master Programme in Biomedicine, Uppsala University
Leave your comment here: