Potensi kontribusi alumni Swedia bagi Indonesia

Pembicaraan Uday, Direktur kami di JVTC (Luleå Railway Research Center), di sore itu dalam sebuah sidang disertasi salah satu mahasiswa S3 di kampus cukup menggelitik pikiran saya. Menurutnya, produk dari sebuah kampus adalah lulusannya, seperti perusahaan yang menghasilkan barang-barang produksi berkualitas. Dia menambahkan keberhasilan pendidikan sebuah universitas dapat dilihat dari para lulusannya.

Kalimatnya ini membuat saya merenungkan tentang diri saya sendiri, sebagai seorang diaspora akademik Indonesia yang sedang menuntut ilmu di sebuah universitas asing. Kelak jika saya sudah lulus, karya dan kualitas seperti apa ya yang akan saya berikan untuk masyarakat, terutama untuk Indonesia?

Dalam konteks yang lebih luas, sebenarnya apa sih yang bisa diharapkan dari alumni Swedia untuk Indonesia? Sambil santai dan agak penasaran saya coba lihat databasenya PPI Swedia tentang jumlah orang Indonesia yang sedang sekolah di sini. Sebagai gambaran untuk tahu kira-kira seberapa besar sih potensi upgraded brain capital yang dimiliki Indonesia di negeri terinovatif kedua di dunia ini.

Dari data yang dihimpun PPI Swedia, ada 137 mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Swedia. Mereka tersebar di berbagai universitas di Swedia. Dari 137 SDM potensial Indonesia tersebut, kira-kira tingkat kontribusi seperti apa ya yang patut kita harapkan dari mereka? Well, kita baru bisa mengukurnya dari jenjang studi yang sedang mereka tempuh. Semakin tinggi jenjang akademis yang mereka tempuh, wajar dong kalo kita berekspektasi kualitas kontribusi yang semakin tinggi pula. Dari database yang kita punya ada 17 orang yang sedang menempuh jenjang doktoral. Dan yang menempuh studi master, jumlahnya 106. 14 orang sisanya menempuh studi S1, yang sebagian besarnya merupakan program pertukaran pelajar. Dengan kata lain, 87% dari seluruh mahasiswa Indonesia di Swedia sedang menempuh program postgraduate (master atau doktoral). Master dan doktoral merupakan jenjang studi yang relatif tinggi dibanding notabene lulusan akademik di Indonesia (tertiary education). Hal ini mencerminkan impact yang besar dan berkualitas tinggi yang dapat diberikan oleh mahasiswa diaspora Indonesia di Swedia kepada Indonesia kelak. Namun, pertanyaan selanjutnya, apakah mereka akan balik ke Indonesia setelah lulus? Hmmm….

Berbicara mengenai hal itu, jika kita tengok dari sumber funding mereka, ada 59% dari seluruh mahasiswa Indonesia di Swedia mendapat funding dari Indonesia (LPDP, BUMN, Kementerian dll). Sedangkan 32%-nya dari non-Indonesia (SI, EM, KIC, atau beasiswa luar negeri yang lain). Dan sisanya adalah dari dana pribadi. Jika kita asumsikan data ini bisa menjadi gambaran rata-rata kondisi diaspora Indonesia per tahunnya, maka per tahunnya minimal ada 59% atau 79 lulusan pendidikan Indonesia dari Swedia yang akan meneruskan karir di Indonesia. FYI, beasiswa pemerintah Indonesia biasanya mewajibkan penerimanya untuk kembali ke Indonesia setelah kelulusan. Kalaupun tidak ada kontrak, biasanya ada beban moral untuk kembali mengingat Indonesia merupakan negara berkembang yang mengalami krisis finansial – yah bisa panjang, lebar, tinggi, dan waktu yang lama kalau bahas tentang ini sih ya 😀 . 79 mahasiswa Indonesia tersebut terdiri dari 3 mahasiswa S1, 73 mahasiswa S2, dan 3 mahasiswa S3. Ini merupakan angka yang menggembirakan bagi progress kemajuan Indonesia.

Di sisi lain, bisa diasumsikan pula maksimal akan ada 41% atau 58 lulusan (penerima beasiswa non-Indonesia dan self-funding) Swedia yang kemungkinan tidak kembali ke atau tidak berkarir di Indonesia setiap tahunnya. 58 mahasiswa Indonesia ini terdiri dari 11 mahasiswa S1, 33 mahasiswa S2, dan 14 mahasiswa S3. Inilah potential brain drain yang kemungkinan akan hilang atau setidaknya berkurang potensi kontribusinya untuk Indonesia. Satu hal yang perlu kita pahami, angka-angka yang disebutkan disini adalah hanya dari statistik mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di Swedia. Tentu saja angka-angka ini akan menjadi lebih besar jika kita mengkaji statistik diaspora akademik Indonesia dari seluruh dunia. Analisa mengenai statistik diaspora Indonesia di tingkat dunia tentu menarik untuk ditelisik. Jika ada, data dari PPI Dunia bisa dijadikan bahan analisa.

Kemudian, di bidang mana mereka akan berkontribusi untuk Indonesia nantinya? Yuk kita lihat dari disiplin ilmu yang sedang mereka tempuh. Dari 137 mahasiswa Indonesia di Swedia, 47%nya menempuh studi Sains teknologi, 21% studi Sosial humaniora, 18% Ekonomi bisnis, 12% Kesehatan, dan 2% Agrokompleks. Reputasi akademik Swedia dalam bidang sains dan teknologi merupakan magnet utama bagi mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan studinya di sini.

Sedangkan menurut bidang riset mereka, topiknya tersebar diantara 25 topik penelitian. Beberapa topik riset yang banyak ditempuh adalah transportasi, ICT, kesehatan, business and entrepreneurship, humanitarian issues dan renewable energy, yang mana tiap-tiap bidang riset tersebut terdapat minimal 10 mahasiswa yang sedang menekuninya. Sementara selain bidang riset tersebut, mahasiswa yang menekuninya kurang dari 8 orang. Dari data ini, bisa kita perkirakan bahwa kelak akan relatif lebih banyak alumni Swedia yang akan berkontribusi di bidang-bidang tersebut.

Mempersiapkan diri

Buat kita yang masih meneruskan studi di Swedia, kira-kira apa saja yang bisa kita persiapkan sebelum kelulusan dan berkontribusi lebih untuk Indonesia? Setahu saya, memang belum ada program atau platform yang massive dan sustainable yang memfasilitasi diaspora indonesia untuk dapat berkontribusi untuk Indonesia. Namun itu bukan berarti kita hanya bisa berpangku tangan dan menunggu kelulusan. Masih banyak yang bisa kita lakukan untuk mempersiapkannya. Beberapa diantaranya:

  • Merencanakan karir

Kita mulai perencanaan dari hal apa yang ingin kita tuju. Rencanakan karir dengan baik, ingin jadi professional, ingin jadi akademisi/peneliti, atau jadi wirausahawan.

Kalau jadi professional ingin kerja di perusahaan apa, perusahaannya di bidang apa, apakah harus sesuai dengan jurusan yang dipilih, dan apakah harus di Indonesia?

Kalau jadi akademisi/peneliti, apakah harus di Indonesia? Apakah harus di kampus? Bisa juga jadi peneliti di industri.

Atau mungkin jadi wirausahawan. Nah, sudah punya ide bisnisnya belum? Ada perencanaan dapat modalnya belum? Perlu partner kah? Ato wirausaha yang memakai kemampuan riset kamu, seperti konsultan misalnya?

  • Memperbanyak jaringan perkenalan

Terlebih lagi karena mumpung kita ada di luar negeri dengan status sebagai ”akademisi”. Perbanyaklah kenalan yang sekiranya akan mampu mendukung karirmu di masa depan. Saya yakin banyak kesempatan berinteraksi dengan praktisi akademik maupun profesional selama di kampus di Sweden ini.

Optimalkan pula sosial media untuk membangun jaringan. Search engine di Linkedin sangat direkomendasikan untuk mencari pakar atau kolega baru di belahan bumi manapun. Hanya dengan tambahan filter ”indonesia”, kamu bisa tahu siapa orang Indonesia yang berkutat di bidang yang sama denganmu.

  • Berkolaborasi

Dari database yang ditampilkan, meskipun terpisah-pisah dari Malmö hingga Kiruna, dari Lysekil hingga Luleå, bisa dilihat bahwa kita sebenarnya mempelajari beberapa subjek yang sama, hanya tidak pernah satu forum saja. Berinteraksilah dengan Indonesian student/academician yang mempelajari subjek yang sebidang tersebut. Siapa tahu, di kemudian hari bisa berkolaborasi dengan mereka. Bisa saja kelak mereka akan jadi teman sekantor/co-worker, teman co-founder atau co-author journal kalian. Bahkan, ”sekedar” buat review paper untuk dipresentasikan di seminar lokal, jadi selingan saat mudik ke Indonesia adalah ide bagus, hitung-hitung bangun reputasi dan jaringan di Indonesia. Syukur-syukur bisa sekalian diajuin jadi peer-reviewed journal.

  • Bangun reputasi

Sembari menyelesaikan studi, kita bisa mulai bangun reputasi kita. Selain dari pekerjaan akademik kita sehari-hari selama studi di kampus, kita bisa mulai rutin menunjukkan kapasitas berpikir/kontribusi kita di berbagai media.

Saat ini bahkan sudah jadi tren kekinian untuk membuat bahasan serius di update status sosial media. Membuat personal website juga ide yang menarik. Mulai dari jadi youtuber diaspora ala @Gitasav sampai menjadi penulis buku travelling tips ala @Backpackerdunia, semua bisa dicoba. Selama semuanya bisa dipertanggungjawabkan dan tidak dibuat-dibuat seperti kasus yang baru saja terungkap.

Menjadi ”produk” kampus Swedia, dengan beragam keunggulan yang menggema di seluruh penjuru dunia, sudah sepantasnya menjadi motivasi diri untuk menjadi lulusan yang membanggakan. Kita sebagai warga negara Indonesia, memiliki beban lebih besar dalam mempersembahkan kontribusi terbaik untuk kemajuan bangsa.

Sumber:

  • Global Innovation Index 2017 – http://www.wipo.int/pressroom/en/articles/2017/article_0006.html
  • Database PPI Swedia 2015/2016
Oleh:
Anandika - Luleå
Divisi Operation and Maintenance
Luleå Tekniska Universitet
Leave your comment here: