Rekomendasi Rijswijk, rekomendasi mahasiswa Indonesia di Simposium PPI Amerika-Eropa

Den Haag, Belanda – Perhimpunan Pelajar Indonesia kawasan Amerika dan Eropa (PPI Amerop), bersama PPI Belanda telah menyelenggarakan Simposium PPI Amerop di Belanda, 24-26 April 2016. Program tahunan PPI Amerop ini dihadiri oleh 27 peserta dari 14 (empat belas) negara dan tahun ini mengambil tema “Memaknai Kembali Identitas Bangsa dalam Rangka Menghadapi Komunitas ASEAN”. PPI Swedia diwakili oleh Koordinator Pusat, Sdri. Rizka Pravitianasari.

Peserta Simposium PPI Amerop bersama Duta Besar RI, DCM, dan staf KBRI Den Haag

Peserta Simposium PPI Amerop bersama Duta Besar RI, DCM, dan staf KBRI Den Haag

Dalam pembukaan, Sekretaris Jenderal PPI Belanda, Sdr. Ali Abdillah, menyampaikan bahwa alasan pemilihan tema simposium adalah selain sebelumnya PPI Belanda pernah mengadakan konferensi dengan topik yang sama, masih terdapat pertanyaan-pertanyaan seperti bagaimanakah jati diri Bangsa Indonesia dalam menghadapi ASEAN Community, Indonesia mau dibawa kearah mana, hingga apakah ASEAN perlu melindungi identitas nasional, sebagaimana dilakukan Uni Eropa? Hal-hal inilah yang membuat topik ini perlu kembali diangkat untuk mendapatkan pemikiran lebih banyak.

Koordinator PPI Amerop, Sdri. Puput Cibro (PPI Ceko), menyampaikan harapan agar hasil yang dikeluarkan simposium ini merupakan pemikiran terbaik yang visioner, akademis, dan tajam, yang nantinya dapat menjadi rekomendasi bagi Indonesia, sekaligus dibawa sebagai hasil dari Amerop pada Simposium PPI Dunia yang akan datang (Mesir, Juli 2016).

Pada kesempatan yang sama, Koordinator PPI Dunia, Sdr. Steven Guntur (PPI Rusia), juga menjelaskan bahwa simposium ini merupakan bagian dari rangkaian progam kerja PPI Dunia.

Membuka simposium secara resmi, Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, H.E.  Gusti Agung Wesaka Puja mengharapkan agar pada diskusi nanti mahasiswa tidak terlalu banyak melihat ke belakang, namun dapat lebih fokus ke depan untuk berkontribusi bagi negara dan membangun Indonesia Baru.

Sedangkan mengenai ASEAN sendiri, Dubes Puja yang berpengalaman menangani ASEAN, menyatakan dalam keynote speech-nya bahwa dalam menghadapi ASEAN Community ini Indonesia seharusnya jangan takut lapangan pekerjaan diambil oleh masyarakat negara lain.

“Indonesia terlalu besar bagi ASEAN. Populasi Indonesia 40% dari seluruh populasi ASEAN, Indonesia memiliki bonus demografi, dan masyarakat Indonesia sangat kreatif yang sebenarnya justru dapat masuk ke pasar tenaga kerja negara ASEAN yang lain,” ungkap mantan Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri RI ini. Namun demikian, masih terdapat hal-hal yang perlu ditingkatkan bagi masyarakat Indonesia untuk dapat bersaing dengan masyarakat luar, misalnya bahasa dan standardisasi kemampuan (skill). Selain itu, beberapa peraturan di Indonesia juga harus diperbaiki.

Selain mendapatkan insight dari Dubes RI, peserta simposium juga mendapatkan wawasan bagaimana Indonesia dapat mengelola identitas nasional dalam menghadapi ASEAN Community melalui seminar yang menghadirkan total 5 (lima) narasumber dari berbagai bidang, seperti diaspora, spasial, dan teknologi.

Seminar oleh Ary Ardyansyah Samsura, Ph.D (Post-doc Department of Spatial Planning, Radboud University Nijmegen) (tengah) dan Ebed Litaay (Ketua Indonesian Diaspora Network) (kanan)

Seminar oleh Ary Ardyansyah Samsura, Ph.D (Post-doc Department of Spatial Planning, Radboud University Nijmegen) (tengah) dan Ebed Litaay (Ketua Indonesian Diaspora Network) (kanan)

Selain itu, simposium juga diisi dengan acara “Napak Tilas kota Leiden”, dimana para peserta diajak untuk keliling kota Leiden untuk mengenal kota yang memiliki ikatan dengan perjuangan pemuda Indonesia ini. Misalnya, di kota inilah tokoh-tokoh bangsa seperti Bung Hatta, Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan Ki Hajar Dewantara aktif di Perhimpunan Indonesia (Indonesische Vereeniging) yang mengedepankan perjuangan anti kolonial Indonesia melalui tulisan-tulisan kritis.

Napak Tilas kota Leiden

Napak Tilas kota Leiden

Rekomendasi Rijswijk, hasil Simposium PPI Amerop

Salah satu mata acara penting Simposium PPI Amerop adalah sidang dan diskusi. Pada Sidang Organisasi, Koordinator PPI Amerop menjelaskan beberapa program yang tengah dikerjakan, antara lain website “Kamar Pelajar”, PPI Book, pembentukan forum Ph.D Amerop, dan drafting rekomendasi PPI Amerop kepada Pemerintah mengenai beasiswa.

Selain itu, dalam Sidang ini disepakati pula tata tertib Sidang Pleno serta forum group discussion (FGD) terpisah untuk 4 (empat) bidang yang berbeda (politik dan hukum, ekonomi, sosial-budaya, dan sains-teknologi) dimana hasil masing-masing komisi akan dibahas bersama di Sidang Pleno untuk kemudian menjadi rekomendasi gabungan.

PPI Swedia bergabung dalam komisi politik dan hukum yang dimoderatori oleh perwakilan dari PPI Belanda. PPI Swedia menyampaikan bahwa Indonesia perlu terus menerapkan “politik luar negeri bebas-aktif” (independent and active foreign policy) sebagai identitas Indonesia. Prinsip yang pertama kali dikemukakan oleh Bung Hatta pada tahun 1948 ini sesuai dengan prinsip-prinsip Indonesia sebagaimana tertulis dalam Pembukaan UUD 1945 dan telah memberikan kontribusi bagi perdamaian dunia.

Dan di dalam konteks ASEAN, utamanya pilar ASEAN Political Security Community (APSC), PPI Swedia menjelaskan pentingnya prinsip bebas-aktif ini dalam konteks sengketa Laut Tiongkok Selatan (LTS). Karena perdamaian dan stabilitas di kawasan sangat penting untuk proses pembangunan, Indonesia seyogianya dapat terus berperan aktif dalam menjaga stabilitas dan meredam konflik di antara negara yang bersengketa. Diusulkan agar dalam FGD komisi politik dan hukum salah satu rekomendasi yang dikeluarkan adalah agar Indonesia dapat menjadi mediator dalam konflik di LTS.

Final Drafting FGD Komisi Politik dan Hukum

Final Drafting FGD Komisi Politik dan Hukum

Di akhir simposium, Sidang Pleno mengesahkan “Rekomendasi Rijswijk” sebagai hasil simposium, yang teridiri 7 (tujuh) butir pemikiran paling urgent dari 4 (empat) bidang FGD. Masukan dari PPI Swedia yaitu “mendorong peran Indonesia sebagai mediator dalam konflik LTS” masuk ke dalam butir rekomendasi politik dan hukum. Rekomendasi dari bidang ekonomi menekankan pentingnya sistem informasi yang terintegrasi dan penguatan sektor pertanian dan pariwisata, sedangkan rekomendasi sosial-budaya menyarankan penyebaran informasi mengenai pentingnya sertifikasi keahlian profesi. Di lain pihak, rekomendasi teknologi menyarankan agar seluruh rumah tangga Indonesia mendapatkan akses listrik dan memasukkan nuklir sebagai salah satu opsi sumber pembangkit listrik.

Rekomendasi ini akan dibawa sebagai hasil pemikiran PPI Amerop ke Simposium PPI Dunia. Selain itu, direncanakan juga akan ditulis artikel-artikel populer yang berkaitan dengan hasil diskusi simposium dan dipublikasikan kepada masyarakat.

Selain itu, Sdr. Herry Cahyadi dari PPI Turki terpilih sebagai Koodinator PPI Amerop 2016/2017, dan PPI Italia terpilih sebagai host Simposium PPI Amerop tahun 2017.

Beberapa artikel online mengenai Simposium PPI Amerop 2016:

http://m.antaranews.com/berita/557910/pelajar-indonesia-di-amerika-dan-eropa-bersuara-soal-laut-tiongkok-selatan

http://www.wartabuana.com/read/57069-perhimpunan-pelajar-indonesia-seamerika-hasilkan-rekomendasi-rijswijk.html

http://m.kontan.co.id/news/ppi-indonesia-sebagai-pemimpin-di-kawasan-asean

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *