Alternatif Liburan dari Swedia: Umrah Yuk!

Antara umrah yang satu dan umrah lainnya, itu akan menghapuskan dosa di antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.” (HR. Bukhari)

Hej, Allihopa! Selama ini, kalau dengar kata ‘liburan’, apa yang akan terbayang? Menjelajahi kota-kota cantik di eropa? Berburu aurora di utara? Mengunjungi tempat rekreasi yang terbaru? Ya, kami kurang lebih begitu. Hingga suatu ketika terpikir kenapa tidak menjadikan umrah sebagai opsi liburan juga? Mungkin memang dananya lebih besar dibanding traveling biasa, mungkin lebih butuh persiapan fisik dan mental, tapi boleh jadi manfaatnya pun lebih besar. Lagipula, tidak ada yang tidak mungkin, kan?

Labaik allahuma labaik..

Umrah dari Swedia

Alhamdulillah pada liburan akhir tahun kemarin keluarga kecil kami berkesempatan untuk melakukan umrah. Tepatnya berangkat dari Gothenburg tanggal 23 Desember dan pulang tanggal 2 Januari 2019. Saya, suami, Kakak Asiyah (4 tahun), dan Adik Maryam (16 bulan) ikut rombongan dari travel agent Swedia yang berpusat di Stockholm (hajj.se). Selain kami, ada rekan PPI Gothenburg lain yang juga ikut, Bintang Rivani. Selain kami berlima tentunya ada para muslim dari berbagai kota di Swedia yang ikut travel yang sama. Kurang lebih totalnya 130 orang dengan 3 group leaders.

Jadi, kalo berangkat dari Swedia dan melalui travel itu, pada umumnya mereka mengadakan perjalanan yang disesuaikan dengan jadwal libur nasional yaitu di waktu natal, sportlov break (minggu ke 7 setiap tahun), easter break (sekitar April), dan summer (yang bertepatan dengan Ramadhan).

Di empat waktu tersebut, hampir selalu mereka buka paket umrah dengan grup cukup besar dan tentunya group leader. Diluar waktu tersebut kadang mereka juga buka umrah kok. Jadi lebih baik proaktif aja email ke pelayanan customer di websitenya. Selain itu kalo kita mau request waktu sendiri juga bisa aja, mereka akan bantuin visa dan aturin transport dkk-nya.

Nah karena kebetulan saat kami pengen umrah itu waktunya sudah menjelang akhir tahun, jadi kami ambil yang pilihan waktu libur natal-tahun baru. Disaat di tempat lain aneka macam perayaan dilakukan pada malam pergantian tahun, ini dihabiskan di tanah suci yang menenangkan. Semoga jadi awal yang baik bagi tahun-tahun yang akan datang.

Dan ternyata umrah di periode winter begini nyaman sekali. Saya jadi baru tahu kalo Arab bisa sejuk juga, hihi. Disaat akhir Desember-Januari itu udaranya adem, ga terlalu dingin tapi juga ga panas. Di mekah masih bisa ga pakai Jaket, berkisar 25-28 derajat suhunya. Di madinah bisa 20 bahkan 14 saat menjelang subuh dan malam hari. Jadi di Madinah perlu siapkan jaket yang cukup hangat.

Kenapa Umrah dari Swedia?

Kami berharap perjalanan ini bisa jadi bagian dari pendidikan bagi anak-anak dan tentunya kami sendiri juga. Diantaranya agar kami bisa merasakan suasana yang kental dengan ibadah dan mengingat Allah, belajar bersaudara dengan para muslim lain yang lebih sulit dijumpai di Swedia, berdoa di tempat-tempat mustajab, dan tentunya untuk menguatkan iman. Karena saat umrah kita diingatkan lagi apa yang penting dalam hidup dan istirahat sementara dari kesibukan dunia.

Selain itu, umrah dari Swedia maupun Eropa pada umumnya sebenernya punya beberapa kelebihan dari segi geografis. Karena letak Eropa dan Saudi Arabia lebih dekat daripada dari Indonesia, maka tidak perlu terlalu lama di perjalanan. Zona waktunya juga tidak berbeda jauh, hanya selisih dua jam sehingga tidak sampai bikin jetlag. Bisa dibilang umrah dari Eropa itu traveling yang ga terlampau ‘jauh’. Maka, bismillah, kami pun mencoba menjadikan umrah sebagai opsi berlibur.

Satu koper kabin diperuntukan khusus untuk menyimpan jaket-jaket winter (yang sangat tebal) ^^

Apa saja berkas yang diperlukan?

Berangkat umrah dari Swedia syaratnya mudah aja. Dokumen yang diperlukan antara lain=

Residence permit

– Paspor dengan masa berlaku minimal 6 bulan dari tanggal keberangkatan

– Mahram laki-laki (minimal berusia 15 tahun) bagi wanita dibawah usia 45 tahun

– Finger prints di VHF Tasheel (ada di Stockholm dan Gothenburg). Jadwal finger print diatur oleh pihak travel agent, kita cukup bayar 50 SEK aja ke rekening mereka.

– 2 pas foto

– Formulir

– Kartu keluarga dalam bahasa inggris

– Vaksin meningitis (tapi anak2 ga perlu), bisa langsung ke klinik terdekat, biayanya 600 SEK.

Saat mendaftar, cukup kirim scan paspor dan excel sheet dari mereka yang isinya hanya data diri kita (data paspor dan tanda tangan). Ketika sudah ambil fingerprint, maka semua dokumen yang lain dikirim ke travel agennya. Prosesnya bisa dibilang anti ribet, semua cukup diurus via email dan surat.

Ini si buku kuning vaksin meningitis
(Photo of M. Bintang Rivani)

Perbedaan Administrasi Umrah dari Swedia dan Indonesia

Berdasarkan pengetahuan saya, ada beberapa perbedaan administrasi nih dibandingkan umrah dari tanah air. Di Swedia, tidak ada aturan jumlah kata minimal dalam nama di paspor, artinya nama yang terdiri dari dua kata ga masalah. Sedangkan kalau dulu saat saya berangkat umrah dari Indonesia (kalo ga salah sekitar tahun 2004, 2007, dan 2011) jemaah diwajibkan memiliki nama minimal tiga kata. Karena nama saya cuma terdiri dari dua kata (Dery + Hefimaputri) maka ditambahkanlah koreksi nama di halaman keempat paspor dengan menambahkan “binti” nama ayah. Hal ini cukup jadi momok bagi saya pribadi, karena walaupun pembuatan visa bisa berjalan dengan membuat koreksi nama di paspor, tapi saya jadi kesulitan saat mengajukan visa eropa di kemudian hari karena visa eropa mewajibkan halaman empat (halaman koreksi) bersih, alias ga boleh ada penambahan nama. Dulu hal ini cukup memakan waktu juga karena saya jadi terpaksa bikin paspor baru sebelum ke Swedia. Syukurlah kejadian yang sama ga perlu terulang lagi kali ini. Mau nama terdiri dari satu kata pun ga masalah.

Harganya berapa?

Tergantung kita ambil paket yang berapa orang sekamar. Per akhir 2018, harga dewasa untuk kamar isi dua orang harganya 17900 SEK, isi tiga orang 16900 SEK, isi empat orang 15900 SEK. Harga student usia 12-22 tahun dikurangi 1000 SEK. Harga ini juga tergantung season. Untuk winter holiday demand-nya tinggi jadi agak lebih mahal. Misalnya, untuk bulan Februari, harganya bisa lebih murah sampai 2000 SEK. Bagi anak-anak usia 2-11 tahun adalah 15900 SEK untuk dua orang per kamar, 14900 SEK untuk sekamar bertiga, dan 13900 SEK untuk yang sekamar berempat. Harga bayi 0-2 tahun flat 2900 SEK, ga dapet kursi pesawat dan kasur sendiri, alias nebeng orang tua aja. 1 SEK saat ini berkisar 1,550 rupiah.  Jadi kalau ambil sekamar berempat, maka sekitar 24,7 juta rupiah per orang. Ga jauh beda dengan harga umrah dari Indonesia kan? Apalagi ini udah standar hotel bintang lima baik di Mekah maupun di Madinah.

Yang perlu digarisbawahi, biaya ini diluar biaya makan siang dan makan malam. Kalo sarapan sudah termasuk karena dapet dari hotel. Jadi perlu alokasi tambahan untuk biaya makan siang dan malam, ya. Nah ini salah satu poin pembeda dari travel umrah Indonesia juga. Biasanya kalo dari Indonesia kan makan pagi-malam sudah termasuk di harga paket. Selain itu, bedanya, di beberapa travel indonesia (atau pada umumnya ya kecuali yang VIP) makannya biasanya terpisah dari fasilitas hotel, yakni katering menu indonesia sendiri. Sedangkan kalau dari travel Swedia ini sarapan sudah pasti ikut restoran hotel. Kalo saya pribadi sih lebih suka sarapan standar hotel, gapapa lah ga ketemu nasi juga, hehe.

Masjid Nabawi

Berapa harga makanan disana?

Kalo beli makan deket hotel bisa sekitar 15 SAR per porsi (sekitar 56 ribu rupiah) untuk sejenis nasi briyani kambing atau kari. Kalo sandwich atau kebab gulung tentu lebih murah lagi, bisa dibawah 10 SAR. Tapi kalo belinya di mall, misal di Abraj Mall di depan Masjidil Haram, nah ini bisa 25-30 SAR per menu. Jadi, pinter-pinter kita nyari aja. Lauk anak-anak juga ga susah kok, ayam panggang atau ayam tepung gitu ada banyaakk, ikan juga. Buah dan sayur juga banyak di swalayan yang mudah dicari dimana-mana.

Kalau anggaplah sehari kita makan siang dan makan malam masing-masing 15 SAR, maka sehari perlu mengalokasikan 30 SAR per orang untuk makan. Dikalikan jumlah hari sebanyak 10 hari, maka per orang perlu mengalokasikan sekitar 300 SAR (1,12juta rupiah) untuk biaya makan. Jumlah ini masih bisa ditekan kalau makannya berdua, tidak harus selalu beli dua porsi, pinter-pinter mix and match menu aja.

Cukup 22 SAR untuk makan berdua (dapat kebab 3pcs dan 2 kari telur) dan 15 SAR untuk ayam panggang anak-anak (bisa untuk dimakan siang & malam)

Biaya lain-lain

Selain biaya makan siang dan makan malam, ada biaya cukur tahalul yang murah saja hanya sekitar 10 SAR, ada di basement Abraj Mall. Selain itu, keperluan oleh-oleh tentu tergantung selera kita, ya. Kami sendiri tidak mengalokasikan banyak waktu untuk beli-beli, seoptimal mungkin waktu digunakan untuk ibadah dan istirahat (apalagi membawa dua balita).

Kalau untuk beli kurma, nanti di Madinah akan berkunjung langsung ke kebun kurma. Harga kurma Ajwa (kurma nabi) berkisar 35-40 SAR, ada juga kurma jenis-jenis lain yang lebih murah. Kismis arab sekitar 15 SAR per kilo. Juga ada kacang-kacangan dan aneka cokelat.  Kalau untuk oleh-oleh kecil, ada toko serba 2 real di Madinah.

Toko kurma di Madinah

Photo captured by Bintang Rivani

Hari H

Berbekal tiket pesawat yang sudah di-email ke peserta, kita berangkat mandiri aja tanpa saling menunggu dari Bandara Gothenburg. Untuk yang dekat Stockholm langsung berangkat dari Stockholm, begitu juga Swedia selatan (Lund dan sekitarnya) langsung berangkat dari Copenhagen. Baru bertemu dengan rombongan lainnya nanti saat transit di Istanbul Attaturk Airport.

Photos captured by Bintang Rivani

Di bandara Istanbul, kita dikasih name tag (berisi foto & data diri, kontak group leader, dan nama hotel) dan slayer untuk wanita. Udah itu aja. Ga ada koper kembar, atau tas tenteng seragaman, apalagi baju dress code ala umroh dari Indonesia. Proses keberangkatan kami nyantai dan praktis banget, hehe. Ga manasik tatap muka juga, cuma dikasih penjelasan via email. Jadi sangat perlu belajar mandiri sebelum berangkat, terutama bagi yang akan umrah untuk pertama kali. Kalau kami nonton fiqih umrah dari youtube dan juga baca dari buku yang kebetulan dibawa dari Indonesia (di Internet juga insyaAllah banyak kok infonya).

Photos captured by Bintang Rivani

Rute perjalanan kita adalah langsung ke Mekkah setelah landing di Jeddah, baru ke Madinah nanti di empat hari terakhir. Saya pribadi merasa lebih nyaman dengan rute begini sih. Jadi kelarin umroh dulu saat kondisi badan masih fit, baru ziarah di akhir.

Review Hotel

Hotel saat di Mekah di Infinity Hotel sedangkan saat di Madinah di Dar Al-Eiman Royal.

Hotel Infinity cukup besar dengan lobi yang mewah dan lapang. Kamarnya juga luas. Hanya saja jaraknya cukup lumayan, sekitar 900 meter dari Masjidil Haram. Jadi kalo tiap hari kita dua kali bolak balik hotel-mesjid sudah hampir dua kilometer sendiri jalannya. Fasilitas kamar terbilang standar. Kamar mandi kita malah sempet mati air panasnya. Pilihan makanan saat sarapan juga termasuk standar.

Menunggu antrian pembagian kamar saat baru sampai Mekah

Lobi Hotel Infinity besar dan nyaman, dilengkapi beberapa ruang santai dengan sofa-sofa empuk

Kamar Hotel Infinity Mekah

Sedangkan untuk hotel di Madinah yakni Hotel Dar Al-Eiman Royal, ini lobinya ga terlalu luas tapi fasilitas kamar, sarapan, maupun jarak sangat memuaskan. Lokasinya hanya sekitar 300 meter dari masjid nabawi. Sebenarnya banyak sih hotel yang lebih dekat bahkan di pelataran mesjid persis, tapi segini saja sudah nikmat banget, kok. Variasi menu saat sarapan juga sangat banyak dan lengkap. Kalau suatu saat diberi kesempatan ke tanah suci lagi, kami akan senang hati kalau dipilihkan lagi Hotel Dar Al-Eiman ini.

Lobi Hotel Dar Al-Eiman lebih mungil tapi tetap nyaman

Kamar Hotel Dar Al-Eiman Madinah

Penempatan hotel masih bisa berubah dari apa yang dijanjikan di awal. Seperti hotel kita di madinah itu, awalnya yang dijanjikan adalah hotel berbeda. Tapi menjelang keberangkatan ada revisi hotel. Tapi tenang aja, akan tetap dipilihkan yang tetap walking distance dari mesjid. Fasilitas lain seperti bus juga cukup baik. Ga bersih cling ala bus di Swedia sih, tapi masih bus baru dan cukup nyaman.

Perjalanan dari Mekah ke Madinah

Prosesi Umrah

Inilah bagian yang paling saya sukai dari umrah dari Swedia. Sebelumnya saya sudah merasakan tiga kali perjalanan umrah dengan tiga travel yang berbeda di Indonesia. Dan rata-rata ya jemaah diberikan jadwal kegiatan yang cukup padat dan saat umrah biasanya harus barengan sama pemandunya. Belum lagi suka ada adegan pemandu membacakan doa kencang-kencang yang diikuti sama jemaah.

Sedangkan saat umrah bersama travel dari Swedia ini, pemandu tidak memimpin doa  dengan suara keras. Jemaah cenderung dilepas aja untuk berdoa masing-masing sehingga lebih khusyuk. Bahkan melakukan prosesi umrah tanpa bergabung dengan rombongan juga dipersilakan. Sangat mandiri. Bahkan kami cuma barengan sama kelompok saat tawaf awal aja, pas udah putaran akhir-akhir kami jalan sendiri begitu juga saat sa’i. Selesai tahalul (potong rambut pertanda prosesi umrah sudah selesai) pun kita pergi sendiri aja tanpa harus tunggu-tungguan atau pulang bareng-bareng. Ibaratnya modal name tag aja (yang berisi nama hotel dan nomor kontak darurat) maka selesai.

Jalan-jalan juga tidak pernah motong waktu solat, jadwal ziarah sudah diatur sedemikian rupa sehingga tidak ada solat wajib di masjid yang terlewat. Selama perjalanan ini kami diajak jalan-jalan ke jabal nur, mina, historic place sekitaran haram, baqi’, mesjid quba, mesjid qiblatain, dan makam Rasulullah.

Mungkinkah umrah dari Swedia tanpa travel?

Ada seorang teman yang bertanya, “Mungkin gak sih mbak umrah dari Swedia/Eropa tanpa travel?”

Sejujurnya saya belum pernah melakukan umrah tanpa bantuan travel selama ini. Baik dari Swedia maupun beberapa kali dari Indonesia sebelumnya. Hanya saja, satu yang saya rasakan, saya merasa bersyukur ada travel yang mendampingi. Karena, jangan bayangkan sistem transportasi disana sudah well-organized seperti di Eropa. Membayangkan luntang-lantung di negeri dengan bahasa yang tidak dikuasai (plus budaya yang berbeda) aja rasanya sudah merepotkan.

Contohnya saja seperti perjalanan kali ini dimana kami sampai dini hari di negeri orang dengan kondisi fisik lelah pasca perjalanan (apalagi karena bersama bayi dan balita), rasanya sudah tidak sanggup kalau harus berjuang cari kendaraan sendiri dari Jeddah ke Mekah. Entah ya kalo ada ilmu khusus yang bisa dipelajari sebelumnya tentang transportasi umum disana. Sejauh yang kami rasakan sih, keputusan pake jasa travel sudah paling nyaman.

Sekian tulisan yang merangkum salah satu perjalanan paling berkesan selama hampir lima tahun kami bermukim di Eropa. Pastinya perjalanan ini menjadi kenangan manis bagi kami dan anak-anak. Perjalanan liburan kali ini merupakan satu kesempatan yang sangat disyukuri dan diharap bisa terulang lagi. Jadi, umrah sebagai opsi berlibur dari Eropa, kenapa tidak?

Pertama di tulis di Madinah Al-munawarah, dituntaskan diGothenburg.

Februari 2018.

 

Dery Hefimaputri

Part-time master student, full-time wife and mommy.

Penulis dapat dihubungi melalui blog dhefimaputri.blogspot.com, email dhefimaputri@gmail.com, dan instagram @dhefimaputri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *