Bersua IKEA di Tempat Ia Bermula

Berkesempatan tinggal di Malmö, Swedia, bersama suami yang sedang menyelesaikan studi, tentunya menjadi kesempatan emas untuk lebih mengenal beberapa nama besar yang identik. Mulai dari H&M, Volvo, Scania, Spotify, Electrolux, Thule, Fjall Raven, Hasselblad, Cheap Monday, Absolut Vodka, Koenigsegg, hingga IKEA.

Pada penghujung musim panas lalu, kami memutuskan untuk mengunjungi Museum IKEA yang berlokasi di kota kecil Älmhult. Dari Malmö, kota tempat tinggal kami, jaraknya sekitar 130 km dan seharusnya bisa ditempuh dalam 90 menit. Namun perjalanan menjadi sangat panjang dan dipenuhi dengan kebingungan. Ternyata kereta yang seharusnya dapat membawa penumpang ke tempat tujuan sedang tidak beroperasi karena ada perbaikan rel, sehingga kami harus berpindah moda, kereta-bus-kereta. #phew

Kereta menjadi moda transportasi yang utama. Hajat hidup ratusan ribu orang terganggu jika ada masalah

Jadilah kami berangkat bermodal nekat dan ngoboi. Saya (Tania Ilyas) dan suami sepakat buat nyantai aja, kalo ga kekejar ikut tour guide yang free yasudah kita bisa ke sana lihat-lihat sendiri. Sama seperti ada free guided tour di kota-kota besar Eropa, di museum pun biasanya ada free guided tour. Jadi jika mau lebih hemat, kita bisa cek jadwal ini sebelum berkunjung. Pastikan juga apakah perlu registrasi sebelumnya. Kami berangkat dari Stasiun Triangeln sekitar pukul 08.40. Sampai stasiun terlambat 5 menit untuk bisa naik kereta yang langsung menuju kota tetangga, Lund, tapi ternyata bisa juga naik kereta pȧgatȧg. Perjalanan sekitar 20 menit, sampai di Lund kami lanjut naik bus jurusan Hässelholm. Nah, perjalanan by bus ini yang memakan waktu cukup lama sekitar 1,5 jam-2 jam, namun saya kurang tahu pasnya karena ketiduran di bus sepanjang perjalanan. Alhamdulillah Alya, putri kami, juga tidur dengan lelap.

Selama musim panas, perusahaan jasa transportasi Swedia, Skȧnetrafiken, memberikan promo kartu (tiket langganan) bus dan kereta terusan yang bisa berlaku di seantero Provinsi Skȧne, namanya Jojosommar. Namun karena Älmhult sudah masuk provinsi lain yaitu Smȧland, sesampainya di Hässelholm sekitar pukul 11.00, kami langsung masuk stasiun dan beli tiket untuk Osby-Älmhult.

Jika diingat kembali, perjalanan ini menjadi seru karena tidak terencana, apalagi saat itu aplikasi perjalanan sedang tidak berfungsi optimal karena ada perbaikan rel. Ditambah ketidaktahuan soal harus beli tiket tambahan, hingga mencari kursi kosong di bus yang selalu penuh pengungsi kereta hehe. Stasiun Älmhult ternyata dekat sekali dengan Museum IKEA, hanya jalan kaki sekitar 100 meter. Dari jauh sudah terlihat IKEA Hotel, jika belok ke kanan terlihatlah papan ke IKEA Museum. Museum ini adalah tempat dimana first store IKEA didirikan, dan Älmhult sendiri adalah hometown dari founder IKEA, Ingvar Kamprad. Alhamdulillah sampai!

Gedung Museum IKEA dengan desain yang efisien dan multifungsi

Biaya masuk yaitu SEK 60 per orang (< Rp 100 ribu), sedangkan Alyaka belum bayar. Resto atau Köket (kitchen) menjadi tujuan pertama karena kami semua sangat lapar. Di resto kami memesan Swedish shrimp salad, Mexican Meatball, Salmon meatball dan strawberry smoothie. Untuk air mineral, teh dan kopi gratis dan bisa refill sepuasnya. Kami ga pesan swedish meatball atau vegetarian meatball karena sudah pernah incip di IKEA Malmö. Harga per porsi untuk meatballnya adalah SEK 70, relatif murah untuk harga makanan di resto. Saladnya enak sekali, segar, dan Alyaka suka. Dua main dishes-nya punya rasa dan karakter yang beda; Mexican meatball-nya saua deskripsikan sebagai dish yang ‘berani, freestyle’ sedangkan Salmon Meatball-nya lebih ‘kalem dan anggun.’ Hahaha kok bisa ya pake anggun?! Ya kira-kira begitu deh. Later we found out saat di museum kenapa IKEA memilih meatball atau bakso sebagai main dish di restonya, karena rasanya bisa variatif dan dari anak kecil sampai orangtua pun bisa makan. Dan kenapa akhirnya IKEA, yang dimulai dari toko furnitur bisa merambah ke punya resto juga? Jawabannya adalah karena dulu, pelanggan yang datang sering harus pulang karena lapar di jam makan. Makanya mereka akhirnya bikin resto sekalian, jadi ada becandaan: makan di resto di toko perabotan. Haha. Di depan museum juga ada IKEA Hotel yang sejak dulu ada untuk mengakomodir kebutuhan akomodasi rekan bisnis IKEA yang datang dari jauh. Bukti shohih bahwa memuliakan pembeli memang salah satu kunci berdagang.

Makan siang di toko perabotan

Selesai makan kami langsung masuk ke museum. Museum terbagi menjadi tiga bagian yaitu “Our Roots”, “Our Story” dan “Your Story”. Di bagian “Our Roots” diceritakan awal mula sejarah kebangkitan Swedia pasca-perang dunia kedua, serta bagaimana hal ini memotivasi pengembangan bisnis IKEA menjadi seperti sekarang. Dulu seusai perang negara, Swedia ini miskin sekali, banyak warganya yang akhirnya migrasi ke Amerika. FYI, banyak di antara korban kecelakaan kapal Titanic yang merupakan warga Swedia. Di tengah keterpurukan itu mereka berusaha memanfaatkan segala sumber daya yang ada, sampai akhirnya mereka bisa mulai bangkit. Pemerintah mengeluarkan imbauan agar setiap rumah dibangun dengan efisien, dan harus rapi serta bersih. Semenjak itulah Swedia berkembang jadi negara yang maju dan teratur seperti sekarang ini.

Konsep demokratis juga aplikatif dalam desain

Salut banget ya, hanya dalam waktu sekitar 80 tahun mereka bisa reformasi sedemikian rupa. Karena hal ini pula orang yang dianggap tetua di Swedia menjadi sangat dihormati karena merekalah yang membentuk negara ini menjadi seperti sekarang. Nah, di sini juga diceritakan tentang masa kecil Ingvar Kamprad hingga awal mula dia mendirikan IKEA.

Buku, souvenir yang sering dicibir di era digital

Masuk ke bagian kedua “Our Story”, kita bisa melihat-lihat cerita berjalannya perusahaan ini dari awal berdiri hingga sekarang. Ada juga display dari produk-produk ikonik mereka yang disertai informasi tahun dibukanya cabang-cabang lain di seluruh dunia. Sekitar tahun 70-an, mereka bahkan sudah kepikiran tentang Integrated Marketing Communication, sebuah konsep yang didasari oleh keinginan mereka untuk membuat katalog International di samping fakta bahwa logo IKEA sendiri di tiap negara masih berbeda-beda, bahkan di Jerman logonya dilengkapi dengan helm Viking. Sebagai anak advertising, saya dibuat ‘waw’ sekali dengan pemikiran-pemikiran dan inovasi yang dilakukan perusahaan ini. Ga heran mereka established sekali dan punya brand image yang positif – sampai-sampai banyak yang jadi IKEA freak ya :p Di bagian ini kalian juga bisa foto ala-ala sampul katalog IKEA dan langsung di-print jadi.

Tas ikonik yang menjadi populer karena fungsional

Di bagian ketiga, “Your Story”, ada cerita dari para pengguna produk IKEA. Cerita tentang bagaimana mereka menggunakan produk IKEA dalam keseharian mereka, yang tentunya juga sangat menarik. Oiya di lantai 1, ada ruangan khusus untuk craft dan kreativitas anak-anak, juga disediakan minuman dan microwave. Jangan kuatir juga kalau bawa pushchair atau stroller karena liftnya tersedia sampai ke setiap lantai.

Penataan kreatif seperti di film Inception. Kursi roda dan tongkat sekaligus kursi portable tersedia gratis

Fasilitas audio visual di Museum IKEA

Ada total 2 lantai untuk museum, 2 lantai untuk pameran, serta untuk toko juga restoran. Pameran sementara yang sedang berlangsung saat itu adalah “Textile Playground”, yang tentunya sangat membuat saya excited untuk berjelajah! Di sana kami bisa menciptakan motif sendiri, belajar tentang sejarah tekstil dan pattern di Swedia, sampai mencoba membuat apron, tote bag, dan cushion cover. Terakhir kali saya menggambar pola, menggunting kain, dan menjahit terasa seperti decades ago jadi agak kagok, tapi overall saya sangat senang menemukan eksibisi yang menjadi minat saya, karena itu tekstil, dan kesempatan untuk punya kegiatan menarik. Hasil kerajinan tangannya boleh dibawa pulang, dan tentunya gratis. Memang penting sekali untuk mengecek jadwal pameran sementara saat berencana mengunjungi museum.

Temporal exhibition: Textile playground, yeay!

Sekitar jam 04.30, kami memutuskan untuk pulang. Menggunakan rute yang sama, bahkan ayahnya Alyaka harus berdiri sepanjang perjalanan dari Hässleholm – Lund di atas bus dan Alyaka sempat rewel karena sudah masuk jam makan malam. Akhirnya, kami sampai di Lund dan sempat strolling around Lund Station terlebih dahulu. Kami naik kereta menuju Triangeln station dan sampai di rumah sekitar jam 08.00. Malam itu semuanya tidur lelap, capeeek! Tapi semuanya worth it. Kami belajar banyak dari jatuh-bangun bisnis Ingvar Kamprad dan betapa visionernya beliau. Salut.

Pesan mendalam dari Ingvar Kamvprad, demi kejayaan di masa depan

Semoga perjalanan ini dapat memberi pelajaran untuk kami, dan informatif buat kalian yang mau ke Älmhult kapan-kapan. Percayalah, 4 jam pulang pergi dari Malmö ini ga akan kami sesali 🙂 Official website untuk IKEA museum bisa diklik di siniDan kalau mau lihat-lihat foto lain bisa cek di instagramku atau instagram Mas Hafidz yang ini dan ini. Thank you!

Ditulis oleh:
Tania Ilyas (diaspora Indonesia di kota Malmö)

Foto oleh:
Hafidz Novalsyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *