Study trip ke Hammarby Sjöstad

Salah satu hal yang menarik dari kuliah di KTH adalah adanya program study trip ke lapangan atau ke perusahaan. Karena saya mengambil mata kuliah Smart Cities and Climate Mitigation Strategies, saya berkesempatan mengeksplore Hammarby Sjöstad, percontohan sustainable urban area di Stockholm.

Study trip berlangsung selama empat jam dimana saya dan teman-teman mengeksplore lima bagian dari Hammarby Sjöstad dengan jalan kaki kurang lebih 6 km.

#1. The Ecovillage

Desa yang merupakan bagian dari Hammarby Sjöstad ini dibangun dengan konsep bottom-up approach dimana warga yang tertarik dengan sustainable living mengajukan diri ke pemerintah dan memberikan saran dan masukan untuk mendirikan ecovillage di Stockholm. Prinsip ecovillage ini adalah kehidupan manusia yang selaras dengan alam dengan semaksimal mungkin menjaga kelestarian alam. Penduduk ecovillage memakai renewable energy yaitu solar panel dan biomass. Walau begitu, renewable energy belum bisa memasok 100% kebutuhan ecovillage sehingga ecovillage masih terhubung dengan jaringan listrik yang ada.

#2. The Nature Reserve

Kami melanjutkan perjalanan kami ke salah satu nature reserve yang terletak di sebelah ecovillage. Kami dengan sangat mudah dapat memasuki kawasan hutan berkat peraturan dari City of Stockholm dan Government of Sweden yang mengatur bahwa warga Stockholm harus dapat mengakses hutan dengan jarak maksimal 300 meter.

National park dan nature reserve terletak di dekat atau bahkan di dalam kota sebagai upaya menjaga keanekaragaman hayati. Selain itu, keduanya memiliki fungsi sosial yaitu fungsi rekreasi, edukasi, dan tempat interaksi antar warga. Hal lain yang menarik adalah kita boleh memetik buah beri yang ada di hutan dan bahkan tinggal maksimal 1 malam. Hak menjelajah alam ini diiringi pula dengan tanggung jawab kolektif untuk menjaga alam.

#3. The Marcus Church

Inside the Marcus’s Church Source: theimportanceofbeingmodernist.tumblr.com

Gereja Marcus ini unik karena desainnya tidak seperti desain gereja pada umumnya. Tidak ada menara dan dinding gereja terbuat dari bata dan lantainya terbuat dari batu pualam hitam. Gereja yang dibangun pada tahun 1960an ini ternyata didesain tidak biasa karena desainer pada zaman itu bosan dengan desain yang hampir serupa dan ingin membuat desain baru.

Hal unik lainnya adalah terdapat sarang lebah di samping gereja yang lagi-lagi menjadi salah satu upaya menjaga keanekaragaman hayati di Swedia.

#4. Allotment Garden

Source: www.stockholmresilience.org

Allotment garden sudah menjadi bagian dari budaya Swedia sejak tahun 1900an yang diinisiasi dengan tujuan membantu warga tidak mampu untuk menanam dan memanen hasil tanaman sendiri untuk kemudian dipakai sebagai bahan makanan. Sekarang allotment garden bertransformasi menjadi lahan ekspresi diri dan tempat istirahat sejenak di tengah hiruk pikuk kota.

Kami melalui allotment garden di antara Gereja Marcus dan Eco-district. Rata-rata allotment garden berukuran 3 kali 3 meter walau ada juga yang lebih kecil dan besar. Tanamannya juga beraneka ragam, mulai dari tanaman menjalar, kentang, hingga bunga musim panas. Sekali lagi, allotment garden ini adalah salah satu upaya menjaga keanekaragaman hayati sekali sebagai wadah ekpresi dan kreasi warga.

#5. The Eco-District

Kamipun sampai di titik akhir perjalanan yaitu Eco-district bernama Hammarby Sjöstad yang berarti Hammarby Lake City karena terletak di sebelah danau. Pembangunan Hammarby Sjöstad menerapkan konsep eco-modernism concept yang mengintegrasikan teknologi dengan sustainability concept.

Sepanjang melewati daerah apartemen dan pinggiran danau, saya dengan mudah menemukan outdoor park dan open stormwater canal yang berfungsi sebagai area rekreasi dan manajemen pengolahan air.

Hal lain yang unik adalah apartemen di Hammarby Sjöstad memiliki tempat sampah dengan sistem vakum dimana sampah yang kita buang akan terhisap langsung menuju Incineration Plant. Energi yang dihasilkan dari Incineration Plant disalurkan ke jaringan listrik untuk didistribusikan kembali. Ini adalah satu satu upaya Stockholm menciptakan circular way of living.

Oleh:
Titi Sari Nurul Rachmawati - Stockholm
Environmental Engineering and Sustainable Infrastructure 
Master Programme - KTH Royal Institute of Technology

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *