Study Visit ke Örnsköldsvik

Sedikitnya ada tiga pertimbangan kenapa saya mengambil mata kuliah Bio Fibre Chemistry pada awal perkuliahan tahun pertama studi master saya di KTH Royal Institute of Technology. Pertama, ilmu yang dipelajari ialah seputar wood technology atau teknologi yang berkaitan dengan pengelolaan hasil hutan, dimana sekitar 46% wilayah Indonesia adalah hutan. Lalu yang kedua, ada juga pembahasan soal biorefinery, yaitu pemanfaatan biomassa yang merupakan salah satu aplikasi green technology sebagai pengganti bahan bakar fosil. Dan yang ketiga: study trip!

Pada hari pertama perkuliahan, study trip atau study visit dijelaskan sebagai kegiatan di luar kampus untuk mengetahui secara langsung penerapan teori di dunia industri. Sifatnya tidak wajib dan kami tidak perlu merogoh saku sepeser pun, artinya segala biaya mulai dari transportasi hingga akomodasi ditanggung oleh pihak kampus. Para mahasiswa yang ingin mengikuti study visit dipersilakan untuk mendaftarkan diri melalui link yang telah diberikan, dengan catatan jika sudah mendaftar tidak diperbolehkan mundur dengan alasan apapun.

Study visit tersebut dilaksanakan pada tanggal 4-5 Oktober 2017. Sebanyak 25 orang mahasiswa ikut serta dalam study visit ini, termasuk saya, didampingi seorang dosen dan asisten laboratorium yang merupakan mahasiswi PhD. Perjalanan dimulai dari Arlanda Airport menuju Umeå Airport dengan pesawat Norwegian Air pada jam penerbangan 08.30 pagi. Setibanya di Umeå, kami lanjut naik bus menuju Örnsköldsvik dengan waktu tempuh kurang lebih 1,5 jam. Setelah itu, kami makan siang sebelum berlanjut ke acara inti.

Landing di Umeå Airport

Hari Pertama

Örnsköldsvik adalah kota yang berada di Swedia bagian utara. Di tempat ini terdapat kawasan industri terintegrasi yang berhubungan dengan pengelolaan sumber daya hutan. Selama perjalanan darat ke kota ini, kami disuguhi pemandangan pohon-pohon pinus dan cemara, serta pepohonan birch yang daunnya sudah menguning. Udara terasa sedikit lebih dingin jika dibandingkan tempat tinggal saya, Stockholm, dimana pada siang hari temperatur udara di Stockholm biasanya masih berkisar 12-14oC (saat ini sedang musim gugur), sedangkan suhu di Örnsköldsvik antara 8-10oC. Walaupun perbedaannya hanya beberapa digit, saya merasa tempat ini lebih dingin.

Tepat jam setengah satu siang, kami berkumpul di aula untuk sesi presentasi dari beberapa perusahaan. Presentasi pertama diisi oleh Domsjö Fabriker, perusahaan yang bergerak di bidang biorefinery. Produk utamanya adalah selulosa, lignin, dan bioetanol dengan aplikasi beragam; misalnya selulosa untuk bahan tekstil, lignin untuk bahan bangunan dan bioetanol untuk bahan bakar. Bahan baku yang mereka gunakan adalah pohon jenis softwood seperti pinus dan cemara yang merupakan ciri khas tumbuhan yang sesuai dengan kondisi iklim Swedia. Domsjö sendiri merupakan bagian dari Aditya Birla Group, perusahaan multinasional yang berbasis di India.

Proses produksi di Domsjö Fabriker (Sumber : http://bit.do/dPyVT)

Setelah presentasi yang berlangsung kurang lebih 45 menit, kami melakukan factory tour. Sebelum masuk area pabrik, kami dibekali dengan rompi, helm serta perangkat audio sejenis headset untuk mendengar penjelasan dari pemandu. Secara umum, saya berpendapat bahwa gambaran pabrik yang saya lihat tidak jauh berbeda dengan pabrik di Indonesia, seperti tata letak atau komputerisasi mesinnya. Poin penting yang jadi catatan saya adalah proses produksi perusahaan ini yang environmentally friendly alias ramah lingkungan. Salah satu ciri yang kasat mata adalah kondisi sungai di dekat pabrik yang begitu jernih karena mereka menggunakan proses bleaching yang bebas klorin dengan siklus daur ulang.

Factory tour di Domsjö Fabriker

Product display di Domsjö Fabriker

Pukul 14.45 waktu setempat, kami berkumpul lagi di aula untuk presentasi berikutnya dari perusahaan MoRe Research, yaitu lembaga riset yang fokus risetnya berkaitan dengan pulp dan paper industry. Hal yang dilakukan oleh lembaga ini adalah melakukan uji coba melalui pilot project sebelum diaplikasikan menjadi demo plant, atau dengan kata lain menguji dengan skala laboratorium sebelum diaplikasikan ke skala pabrik atau skala industri. Usai presentasi yang berlangsung kurang lebih 15 menit, kami pun diajak untuk research tour.

Ruangan pertama yang dikunjungi adalah ruang pilot project untuk produksi viscose staple fiber, sementara ruangan kedua adalah pilot project untuk produksi kertas. Para peneliti di sini melakukan uji coba produk berdasarkan permintaan customer. Sebagai contoh, suatu produk akan dibuat dengan komposisi bahan tertentu sesuai dengan efisiensi dana, lantas seperti apa efektivitas proses dan sifat produk yang dihasilkan? Maka aspek inilah yang diteliti. Pada dasarnya, kedua ruangan ini adalah uji coba skala kecil sebelum diaplikasikan ke skala besar. Yang lebih istimewa adalah ruangan ketiga.

Ruangan ketiga digunakan sebagai uji coba pilot project untuk proses-proses yang berkaitan dengan biorefinery. Ada salah satu proses yang mengolah batang pohon menjadi makanan ikan. Secara kimia, batang pohon mengandung glukosa, sedangkan makanan ikan mengandung protein. Melalui proses fermentasi glukosa tersebut dapat diubah menjadi protein tinggi. Secara tidak langsung, ikan pun dapat mengonsumsi batang pohon. Hal ini dijelaskan sebagai produk samping dari biorefinery. Saat ini, budidaya ikan perairan mengalami peningkatan sehingga terjadi peningkatan pula pada makanan ikan. Proses ini mencoba menjawab permintaan pasar dengan solusi yang lebih efisien secara proses dan harga, serta yang tak kalah penting juga bersifat ramah lingkungan. FYI, ruangan ketiga ini milik lembaga riset lain alias bukan milik perusahaan MoRe Research. Selengkapnya akan saya ceritakan di acara hari kedua ya.

Batang mohon menjadi makanan ikan (Sumber : http://bit.do/dPyVX)

Sebenarnya masih ada beberapa ruangan lain yang belum sempat dikunjungi dalam sesi research tour karena keterbatasan waktu dan tentunya masih ada pula beberapa pertanyaan kami yang belum terjawab. Saya mengamati bahwa salah satu budaya positif di Swedia adalah soal menghargai waktu, hal ini pun diterapkan saat pelaksanaan study visit kami. Ketika di jadwal tertulis bahwa pukul 16.30 adalah waktunya meninggalkan lokasi menuju penginapan, semuanya pun berlangsung dengan tepat waktu. Maka demikianlah akhir dari study visit kami pada hari pertama.

View pagi hari di penginapan

Hari Kedua

Usai berbenah diri dan sarapan pagi, bus tiba jam setengah sembilan di penginapan. Tepat pukul 08.40 waktu setempat, bus membawa kami kembali ke lokasi study visit. Dan sesuai jadwal, yaitu pukul 09.00 waktu setempat, acara pun dilanjutkan lagi dengan sesi presentasi dari perusahaan lainnya. Presentasi ketiga adalah Processum, sebuah lembaga riset yang fokus risetnya terkait dengan biorefinery. Ingat dengan ruangan ketiga yang memproduksi pelet ikan dari batang pohon? Nah, lembaga inilah yang meneliti produk tersebut. Di lembaga ini, dilakukan uji coba untuk menghasilkan inovasi dalam bentuk produk baru atau penyempurnaan produk berbasis sumber daya hutan dengan pendekatan biorefinery atau konversi biomassa.

Poin penting dari presentasi MoRe Research (hari pertama) dan Processum (hari kedua) yang menjadi catatan saya adalah adanya benang merah yang menghubungkan antara dunia akademik, industri, dan kebutuhan masyarakat. Peran lembaga riset di sini adalah mencari solusi terbaik ketika ada permasalahan atau tantangan di dunia industri. Perkembangan zaman yang begitu dinamis membuat segala sesuatunya tidak bisa dilakukan jika harus berjalan sendiri-sendiri. Oleh karena itu, sinergi antara dunia akademik, industri, dan kebutuhan masyarakat harus berjalan seimbang dalam bentuk kolaborasi yang berkelanjutan.

Presentasi keempat diisi oleh SEKAB, perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan bioetanol menjadi green chemicals (bahan kimia ramah lingkungan) dan biofuel (bahan bakar hayati). Bioetanol yang diproduksi oleh Domsjö Fabriker sebelumnya akan diproses lebih lanjut oleh SEKAB. Konsep perusahaan ini sederhana namun fundamental, dimulai dari sejumlah pertanyaan mendasar: apa yang bisa dilakukan dengan sumber daya hutan dan apa yang bisa dilakukan untuk mengganti ketergantungan pada bahan bakar fosil.

AkzoNobel menjadi perusahaan yang mengisi presentasi kelima. Mereka bergerak di bidang pengolahan cellulose derivatives menjadi bahan-bahan kimia untuk keperluan industri (cat dan pelapis). Sebagian selulosa yang diproduksi oleh Domsjö Fabriker sebelumnya akan diolah lagi jadi bahan-bahan industri oleh AkzoNobel. Sesi presentasi dari perusahaan multinasional yang berbasis di Belanda ini menjadi penutup rangkaian company presentation dalam study visit kami ke Örnsköldsvik. Kami kemudian makan siang sebelum bertolak ke lokasi berikutnya.

Company presentation dari AkzoNobel

Pukul 13.00 waktu setempat, bus yang membawa kami tiba di Gideå, sebuah daerah yang berlokasi di antara Örnsköldsvik dan Umeå. Di sini terdapat plant nursery atau kawasan yang diperuntukkan bagi aktivitas persemaian bibit pohon. Nuansa hijau begitu memanjakan kedua mata. Kawasan ini dikelola oleh sebuah perusahaan yang bernama Holmen. Bibit perlu disemaikan terlebih dulu untuk penyesuaian dengan kondisi sebenarnya pertumbuhan tanaman. Kami diperkenalkan pada bibit pinus dan cemara sejak masih benih hingga sudah berkecambah atau sudah tumbuh daunnya. Bagi saya sendiri, agak susah dan gampang membedakan keduanya, sebab morfologinya hampir sama.

Lebih lanjut di sini, kami juga dijelaskan sistem manajemen dalam proses pembibitan terkait kondisi empat musim di Swedia, misalnya apa yang terjadi dan harus dilakukan ketika lahan pembibitan ditutupi oleh salju. Setelah mendapatkan presentasi singkat, kami bergegas untuk melakukan observasi lahan, mulai dari gudang, green house sampai ke lahan terbuka. Menurut saya, aktivitas terpenting adalah saat bibit disemaikan di green house karena terdapat perlakuan untuk temperatur dan pencahayaan tertentu agar bibit dapat tumbuh dengan kondisi seoptimal mungkin, seperti penyiraman air otomatis dan modifikasi malam buatan.

Greenhouse di Gideå Plant Nursery

Persemaian bibit di Gideå Plant Nursery

Tepat jam 14.30, rangkaian acara inti study visit pun selesai. Bus membawa kami kembali ke Umeå Airport untuk pulang ke Stockholm dengan pesawat Norwegian Air pukul 16.50 sore. Sepanjang perjalanan di bus, saya mencoba untuk review segala sesuatu yang terjadi dalam dua hari terakhir ini. Banyak pembelajaran yang diperoleh. Saya bersyukur bisa mendapatkan kesempatan untuk belajar di luar negeri, dalam hal ini di Swedia. Suatu hari nanti, penerapan sustainability and green technology yang saya lihat di sini semoga bisa melengkapi apa yang sudah ada di negeri sendiri. Tentu ini bukan tugas dan pekerjaan saya semata, melainkan kita bersama-sama untuk bersatu dan berkarya.

Ditulis oleh:
Ahmad Satria Budiman - Stockholm
Macromolecular Materials
Master Program - KTH Royal Institute of Technology

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *