Swedia, Pangan, dan Sustainability

United Nation Sustainable Development Goals (UN SDG) sudah menjadi sesuatu yang familiar. 17 Target untuk kehidupan dan lingkungan yang lebih baik melalui upaya melindungi bumi dan kesejahteraan umat manusia terangkum di dalamnya. Sebagai salah satu negara paling sustainable, Swedia sangat menekankan teknologi, inovasi, dan aktivitas ramah lingkungan berdasarkan UN SDG.

Setiap masyarakat lintas usia dan pekerjaan dihimbau berperan serta. Pemilahan sampah wajib dilakukan setiap rumah tangga hingga industri. Disini, pemilahan sampah yang bermuara pada daur ulang sangatlah spesifik. Beling, kain, sampah organik, kertas, plastik, dan kaleng memiliki tempat pembuangan yang berbeda. Di Swedia, berbelanja pakaian dan kebutuhan rumah tangga di second hand shops sangatlah umum dengan barang berkualitas dan harga bersahabat. Berbicara tentang energi, pembangkit listrik tenaga angin, penggunaan panel surya, dan sumber lainnya sudah bukan hal baru untuk Swedia.

Banyak program perkuliahan berfokus pada sustainability, baik dari segi lingkungan, teknologi, hingga kepemimpinan dan hampir semua program perkuliahan lainnya dilakukan berdasarkan pendekatan UN SDG. Salah satunya program studi food technology and nutrition

Gambar 1. Food sustainability session, Food Science Sweden Conference 2019

Para ahli pangan di negara Nordik, termasuk Swedia mulai melakukan upaya mengurangi food waste untuk mewujudkan “responsible consumption and production” melalui kebijakan penetapan tanggal kadaluwarsa. Secara umum, tanggal kadaluwarsa merupakan tanggal prediksi produk mengalami penurunan mutu dari kondisi awal, misalnya penurunan kandungan vitamin. Walau begitu, bukan berarti setelahnya produk menjadi berbahaya jika dikonsumsi. Sayangnya sebagian orang mengartikan sebagai batas akhir produk diperbolehkan untuk dikonsumsi dan akhirnya mengarah pada food waste.

Gambar 2. Salah satu slide mata kuliah food microbiology (Jenny Schelin, 2019)

Beberapa industri pangan mulai menerapkan sistem penulisan “best before, often good after” yang diartikan bahwa produk umumnya masih dalam kondisi layak konsumsi setelah tanggal kadaluwarsa yang tertera dengan kondisi penyimpanan yang sesuai. Dengan demikian, konsumen diharapkan tidak langsung membuang produk yang masih layak konsumsi walaupun lewat tanggal kadaluwarsa.

Gambar 3. Produk yogurt dengan penulisan tanggal kadaluwarsa “best before, often good after”

Bagaimana konsumen paham kapan produk masih bisa dikonsumsi? Pemerintah melalui badan pengawas pangan (livsmedelsverket) maupun industri memberikan edukasi kepada konsumen. Artikel singkat, iklan, hingga edukasi langsung di jenjang pendidikan formal telah dilakukan. Konsumen perlahan memahami cara melihat penurunan mutu yang masih dapat ditoleransi, misalnya tidak ada pertumbuhan jamur, perubahan warna, aroma, dan tekstur.

Sebagai negara empat musim, Swedia memanfaatkan perbedaan suhu untuk menyesuaikan tanggal kadaluwarsa. Selama winter, sebagian produk makanan memiliki rentang kadaluwarsa yang lebih panjang. Produk dairy contohnya, akan memiliki tambahan rentang kadaluwarsa sekitar 3 hari. Mengapa? Suhu selama winter cenderung rendah membuat produk lebih awet dan diharapkan konsumen dapat lebih bijak membeli dan mengkonsumsi produk pangan mereka. 

Upaya yang dilakukan tidak berhenti sampai disitu. Berbagai penelitian dan penggunaan kemasan ramah lingkungan untuk produk pangan mulai banyak dilakukan. Inovasi produk makanan maupun minuman berbasis tumbuhan (plant base food) pun semakin marak dan sudah diproduksi secara komersial.

Gambar 4. OATLY, salah satu plant base drink berbasis oat

Mungkin beberapa hal bisa diterapkan di luar Swedia juga. Coba lihat makananmu yang sudah atau mendekati kadaluwarsa.  Masih layak konsumsikah? Jangan langsung dibuang, ya. Ingat, semua berperan untuk kehidupan yang lebih baik.

Vi ses!

Fiona Ernesta
Master Student in Food Technology and Nutrition
Lund University

Editor: Ria Ratna Sari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *