Oleh Made Sania Saraswati
Menjadi mahasiswa di luar negeri merupakan sebuah pekerjaan ganda karena secara tidak langsung kita menjadi perwakilan dari negeri kita tercinta, Indonesia. Tindak tanduk dan ucapan kita menyusun citra Indonesia di mata orang lain, kalau bagus ya syukur, kalau jelek ya wassalam. Berhubung di Uppsala University banyak pelajar Indonesia yang suka masak dan berniat untuk menegakkan posisi kuliner Indonesia di mata dunia, maka saya dan Jody mengadakan Indonesiska Middag alias makan malam Indonesia untuk teman-teman sekelas kami dengan bantuan dari pihak Belanda. Oh iya, kami belajar Sustainable Development di Uppsala University & SLU (Sveriges lantbruksuniversitet/Swedish University of Agricultural Sciences).
Sebetulnya kegiatan ini tercetus ketika Flo, teman kami dari Belanda, menyatakan bahwa dia sangat suka dengan makanan Indonesia. Kemudian saya berpikir kenapa kami tidak masak-masak bareng sekalian promosi kuliner Indonesia? Toh, kelezatan makanan Indonesia tidak diragukan meski masih kalah pamor dengan kuliner dari negara lain. Percakapan ini berlangsung tahun lalu. Di pengujung Januari saya tanya lagi ke Flo apakah jadi mau masak bersama, dan akhirnya kegiatan ini berlangsung beberapa minggu lalu.

Menu malam itu adalah nasi goreng, soto ayam, tumis tempe, tahu goreng, pisang goreng, kerupuk dan dilengkapi saus sate racikan Flo. Rasa sausnya jangan ditanya; superenak! Ini semakin membuktikan kecintaan Flo akan masakan Indonesia. Selain berbagi resep dan kelezatan masakan nusantara, saya juga memberikan tips memasak kerupuk di microwave yang merupakan suatu keahlian penting bagi kami para pecinta kerupuk tapi tidak ahli dalam menggorengnya. Untung sekali Jody bisa ikut, alhasil cita rasa masakan aman terkendali.

Untungnya ada tempe di Swedia, meski langka dan tidak seenak di rumah yang memakai bungkus daun pisang. Sebenarnya bisa sih bikin tempe sendiri. Kalau niat. Tapi yah, malas melanda dan tugas banyak (alasan). Respons teman-teman kelas ternyata sangat meriah, lebih dari 15 kawan datang! Bahkan banyak dari mereka yang ingin membantu di dapur tapi sayang ukuran dapur yang kecil membatasi ruang gerak, jadi hanya beberapa saja yang bisa betul-betul membantu.


Berkat kerjasama dari berbagai negara, kegiatan masak dan makan malam kuliner Indonesia terlaksana dengan sangat menyenangkan. Terima kasih untuk teman-teman yang membuat kegiatan ini tidak terlupakan, sungguh tiada kesan tanpa kehadiran kalian.
