Lika-Liku Sakit Gigi di Swedia

Di konten blog kali ini, saya akan berbagi pengalaman dan semoga bisa menjadi pembelajaran bagi teman-teman yang sedang menjalani studi di Swedia atau menjadi salah satu aspek paling penting yang harus disiapkan sebelum berangkat memulai studi di Swedia.

Sumber: https://smilewidely.com/category/dental-care/

“Lebih baik sakit hati, daripada sakit gigi”

Lirik lagu ini tidak berlaku ketika sakit gigi itu dirasakan saat jauh dari rumah dan sedang dikejar deadline serta padatnya jadwal kuliah. Inilah yang saya rasakan bulan lalu.

Saat di Indonesia, saya rajin check-up ke dokter gigi setiap 6 bulan, bahkan satu minggu sebelum keberangkatan ke Swedia, saya kembali memastikan kondisi gigi baik-baik saja dan siap untuk dibawa berjuang ke Swedia. Namun, jika Tuhan berkehendak, siapa yang bisa mengelak. Gigi saya terasa sakit dan nyeri di bulan keempat berdomisili di Swedia.

Yang saya lakukan sesegera mungkin adalah:

  • Membuat appointment di public dental clinic (Folktandvården) yang terdapat di berbagai penjuru Uppsala dengan masuk ke website http://www.lul.se/sv/folktandvarden/.
  • Kemudian, klik list dental clinics.
  • Klik Treatment yang terdapat di heading bar untuk mengetahui kira-kira klinik mana yang memiliki fasilitas untuk jenis treatment dari sakit gigi yang dikeluhkan. Setelah mengetahui klinik mana yang bisa memberikan treatment sesuai kebutuhan, maka trial and error untuk membuat appointment di klinik-klinik tersebut dengan melihat kalender jadwal treatment. Kenapa trial and error? Karena bisa saja suatu klinik baru bisa melayani 3 bulan kemudian (Duh, 3 menit aja rasanya gak sanggup. Kebayang kan perihnya menahan sakit gigi 3 bulan). Beruntungnya ada klinik yang bisa memberikan treatment 2 hari kemudian.
  • Booked appointment dengan memasukkan data pribadi.

Hari appointment pun tiba. Sungguh besar ekspektasi saya untuk pulang dari klinik dalam keadaan gigi sudah baik-baik saja. Namun, realita tidak seindah itu.

Prosedur pertama pemeriksaan gigi adalah X-Ray pada bagian gigi yang terasa nyeri. Berdasarkan hasil X-ray tersebut, rasa nyeri dikarenakan saraf yang terdapat pada gigi saya terganggu. Sayangnya, treatment tidak bisa dilakukan saat itu di klinik tersebut. Dokter gigi di Folktandvården menjelaskan bahwa beliau hanya memberikan emergency treatment dan saya harus mencari private dental clinic untuk mendapatkan treatment secara keseluruhan.

Kenapa harus ke private dental clinic? Di Folktandvården, mereka baru bisa memberikan treatment satu tahun kemudian dikarenakan mereka menghandle 12.000 antrian pasien setiap tahunnya (jadi, ketika kamu sakit gigi di Swedia, saya sarankan untuk langsung ke private dental clinic aja. Berdasarkan testimoni teman yang berwarga negara Swedia, harga di public dan private dental clinic juga tidak terlalu jauh berbeda). Ini adalah titik di mana saya merindukan  klinik dokter gigi di Indonesia yang bisa ditemui setiap sekian kilometer dan buka tiap sore. Modal tahan antre, langsung bisa ditreatment.

Bukan hanya masalah waktu, hidup di negara maju juga harus korban materi aka u-a-n-g. Saat itu, dokter gigi di Folktandvården menyarankan saya untuk mendaftarkan diri di Försäkringskassan atau Swedish Social Insurance Agency agar tidak perlu membayar penuh terhadap treatment yang diberikan dan mendapatkan subsidi dari pemerintah. Namun, berdasarkan website Försäkringskassan dan membaca peraturan serta biaya apa saja yang dicover, tertera bahwa mahasiswa yang berasal dari luar EU/EEA atau Swiss tidak mendapatkan subsidi perawatan gigi dari pemerintah Swedia. Ya sudah, saya tidak mengikuti saran dokter. Toh terdaftar pun biaya treatment saya tidak tercover.

Bermodalkan Google dan rate bintang serta testimoni di facebook, saya memutuskan untuk membuat appointment di salah satu klinik gigi di Uppsala via website klinik tersebut. Keesokan harinya, saya ditelpon oleh klinik tersebut dan mendapatkan appointment hari Rabu. Apakah di hari Rabu itu saya sudah bisa mendapatkan treatment? Oh, tentu tidak semudah itu, kawan. Hari Rabu itu saya hanya dicek, tidak mendapatkan treatment. Setelah dicek, saya harus membuat appointment lagi untuk treatment dua hari kemudian.

Setelah perjalanan penuh lika-liku, akhirnya gigi saya sudah tidak sakit lagi and of course the treatment was really advanced and fancy (reasonable price for an expensive treatment)!

So, for everyone who has planned to study abroad, please:

  1. Make sure that you have checked yourself in general practitioner and dentist in your home country.
  2. Understand about the health system in the country where you study (as early as possible. Don’t wait until your body suffers!)
  3. Save your monthly income. Not only for your future, but also for emergency case (being sick in another country will make you broke, literally).
  4. Take care of yourself!
Oleh:
Sekar Sedya Pangestika-Uppsala
Master Programme in Biomedicine, Uppsala University

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *