Meriahnya Kampung Indonesia di Stockholm

Penonton ikut menari Maumere
Penonton ikut menari Maumere. Foto KBRI Stockholm/Ignasius Hari

Oleh Satu Cahaya Langit.

Jumat dan Sabtu kemarin, KBRI di Stockholm baru saja melangsungkan festival seni budaya Indonesia di Stockholm. Di luar dugaan saya, jumlah penonton yang datang ternyata banyak! Tidak hanya itu, antusiasme mereka dalam menyaksikan acara juga besar. Banyak di antara penonton yang duduk dan mengikuti rangkaian acara dari pukul 11 hingga pukul 16 sore hari. Saya akan berbagi cerita tentang acara kemarin dalam artikel ini.

Hujan di hari pertama, cerah di hari kedua

Acara yang diberi judul “Kampung Indonesia @Kungsträdgården” ini berlangsung dua hari. Hari Jumat penonton yang datang tidak terlalu banyak dan juga ditambah dengan turunnya hujan dan hari kerja, panitia sudah berekspektasi tidak ramainya penonton. Tapi Alhamdulillah, yang datang tidak sesedikit yang diperkirakan. Hari sabtunya, setidaknya jumlah penontonnya 3x lebih banyak dari hari Jumat. Ditambah dengan cuaca yang sangat cerah dan hari libur, membuat area panggung dipadati penonton.

Pelibatan mahasiswa dan masyarakat dalam kepanitiaan

Ini salah satu hal yang saya banggakan. Walaupun jumlah orang Indonesia di Swedia dan Stockholm tidak terlalu banyak, ketiga elemen (KBRI, mahasiswa, dan masyarakat) sangat kompak dalam bantu-membantu dalam acara seperti ini. Dalam Kampung Indonesia kemarin, banyak mahasiswa yang tergabung dalam kepanitiaan dan juga pengisi acara. Masyarakat Indonesia yang menetap di Swedia pun juga dilibatkan dengan sangat dekat. Tidak hanya kali ini saja, sejak saya di Swedia tahun 2013 (kala itu sedang bekerja dan belum kuliah), saya sudah melihat kedekatan seperti ini.

Pengisi acara yang sangat memukau

Ada banyak alasan kenapa penonton banyak yang menyaksikan dari awal hingga akhir acara. Di luar faktor hari libur, menurut saya, alasan lainnya adalah pengisi acara yang sangat menarik dan bervariasi. Tari-tarian Indonesia yang ditarikan Ina Dance, demo memasak yang diberikan chef William Wongso, pameran fotografi dari Ebbie Vebri Adrian, serta Saung Angklung Udjo yang melantunkan alunan lagu baik tradisional maupun modern menggunakan angklung, semuanya menjadi racikan yang sangat pas dan menghasilkan susunan acara yang sangat unik.

Masterchef William Wongso melakukan demo memasak
Masterchef William Wongso melakukan demo memasak. Foto KBRI Stockholm/Ignasius Hari
Grup menari Ina Dance
Grup menari Ina Dance. Foto KBRI Stockholm/Ignasius Hari

Di sisi panggung, ada tiga booth makanan Indonesia, yaitu Warung, Erna’s Bistro, dan booth William Wongso. Ada juga tenda pameran pariwisata dari Singapore Airlines, Garuda Indonesia, dan juga pelaku tour and travel. Wonderful Indonesia dan kementerian pariwisata juga membuka booth untuk mempromosikan Indonesia pada semua orang. Tidak ketinggalan juga booth KBRI untuk melakukan konsuler, serta tenda khusus anak-anak yang berisi mainan tradisional anak-anak Indonesia.

Tidak hanya itu, penonton pun diajak berinteraksi dan ikut serta dalam memeriahkan acara Kampung Indonesia. Pada sesi angklung interaktif misalnya. Dimana sebanyak 200 angklung dipinjamkan kepada penonton untuk dimainkan bersamaan dan membawakan beberapa lagu. MC dari Saung Angklung Udjo mengajarkan penonton bagaimana memainkan angklung, kemudian bersama-sama memainkan lagu diantaranya lagu The Beatles dan Elvis Presley. Selain angklung interaktif, ada juga flash mob berupa Senam Maumere. Dimana para panitia dan masyarakat Indonesia berbaur bersama penonton dan menarikan Senam Maumere. Penonton yang melihat dan tertarik, segera mengikuti gerakan senam.

Hadiah kuis dan door prize yang menarik

Setiap hari dalam dua hari tersebut, MC setidaknya memberikan 3 pertanyaan berhadiah kepada penonton. Hadiah dari pertanyaan MC diantaranya voucher menginap dua malam di sebuah resor di Bali. Tapi yang paling ditunggu penonton tentunya adalah door prize tiket pulang-pergi dari Stockholm ke Indonesia. Totalnya ada 6 tiket yang diberikan kepada 4 pemenang. Untuk mendapatkan undian, syarat yang diberikan adalah berfoto dengan photo wall yang sudah disediakan, mengisi formulir, dan juga mengupload foto tersebut ke sosial media.

Pemenang hadiah utama. Foto KBRI Stockholm/Ignasius Hari
Pemenang hadiah utama. Foto KBRI Stockholm/Ignasius Hari
Penonton belajar angklung. Foto KBRI Stockholm/Ignasius Hari
Penonton belajar angklung. Foto KBRI Stockholm/Ignasius Hari

Seberapa berhasil misi promosi ini?

Dalam pendapat saya, bisa mendapat nilai 8 dari 10. Artinya, sangat berhasil. Melihat antusiasme penonton, juga larisnya booth makanan maupun pameran foto, ikut sertanya penonton dalam joget dangdut, serta komentar-komentar singkat yang saya dengar langsung dari para penonton. Beberapa teman saya juga bercerita kalau banyak penonton yang tadinya tidak tahu Indonesia, menjadi sadar kalau Indonesia itu ternyata besar, alamnya indah, dan kaya budayanya.

Akan terdengar bias memang (karena saya orang Indonesia), tapi Indonesia memang layak sekali untuk dikenal orang lebih luas lagi. Alam kita memang indah sekali, budaya kita memang sangat kaya, kenyataan bahwa kita kurang begitu dikenal, membuktikan kita masih harus bekerja lebih keras lagi, dalam banyak sisi. Promosi sosial budaya, mencetak individu yang berprestasi, dan melestarikan budaya kita yang sudah mulai hilang (tari tradisional, wayang, dan lain-lain).

Semoga kita semua bisa berpartisipasi dalam mempromosikan Indonesia.

Sabrina Zutikno dan Adrian Benn sebagai MC. Foto KBRI Stockholm/Ignasius Hari
Sabrina Zutikno dan Adrian Benn sebagai MC. Foto KBRI Stockholm/Ignasius Hari
Bapak duta besar Bagas Hapsoro membagikan angklung. Foto KBRI Stockholm/Ignasius Hari
Bapak duta besar Bagas Hapsoro membagikan angklung. Foto KBRI Stockholm/Ignasius Hari
Leave your comment here: