Petualangan ke Taman Nasional Sarek (bagian 2 dari 3)

Oleh Satu Cahaya Langit. Bagian 1 | .. | Bagian 3

Hari kedua: Kabin Aktse

Objektif utama perjalanan ke Sarek ini adalah sebuah lembah, delta yang bernama Rapadalen (Lembah Rapa, dalam bahasa Swedia). Di foto yang ada di Internet, lembah itu bagus banget. Bisa dibilang melebihi bagusnya lembah-lembah yang selama ini saya lihat. Karena sungainya bercabang, warnanya tidak sama, kemudian menyatu ke sungai yang lebih besar, diapit gunung-gunung tinggi. Nah, yang kami belum tahu adalah, foto yang ada di internet, itu diambil dari bukit paling tinggi di lembah itu.

Kami sarapan dengan cepat pagi itu. Membereskan tenda, kembali berjalan. Jam 6.30 pagi itu kami sudah mulai berjalan. Keputusan yang bagus sih, menurut saya. Selain pemandangan di sekitar tenda juga tidak bisa dinikmati, nyamuk di luar tenda sudah berlomba untuk mengambil darah kami.

Satu jam lebih dari lokasi tenda kami, akhirnya kami menemukan sebuah pantai dan dermaga. Pemandangan boring road (kami menyebutnya) sepanjang 10km sejak kemarin akhirnya berganti dengan sesuatu yang lain. Sungai besar di depan kami ini bernama Laitaure. Ini sungai besar diujung sungai-sungai bercabang di Rapadalen. Dari sini kami bisa melihat gunung di tepian lembah. Ada satu yang menjulang sangat tinggi.

Sungai Laitaure dan Skierfe di belakangnya
Sungai Laitaure dan Skierfe di belakangnya

“Jangan-jangan kita harus naik ke ujung paling atas itu?” Tanya saya. Walau rasa lelahnya bisa terbayang, ada juga rasa tertantang.

Hujan mulai turun dan kami memasang jas hujan kami masing-masing. Memang di prakiraan cuaca, pagi dan siang ini akan hujan, sehingga saya sudah siap dengan celana pendek dan sandal. Ini bukan hal yang patut ditiru ya, karena sebaiknya pakai celana panjang dan sepatu kalau naik gunung atau masuk hutan.

Jalur membosankan yang tadinya cukup untuk dilewati satu mobil, sekarang berganti jalur hutan yang hanya cukup untuk satu orang. Penanda di jalan bilang 6km lagi kami akan sampai di Aktse, yang merupakan kabin di bawah kaki gunung.

Jalur kali ini berjarak 20m saja dari tepi sungai, sehingga kami sering bertemu sungai-sungai kecil, dan tanah rumput di sekitar kami juga basah. Yang dibutuhkan untuk bertenda itu adalah air mengalir, dan tanah lapang. Jika di jalur kemarin kami banyak menjumpai tanahnya tapi tidak airnya, kali ini banyak airnya tapi tidak ada tanah lapangnya. Sepanjang 6km, hanya ada satu titik untuk bertenda. Abang bule sedang menyeruput minumannya ketika kami lewat tendanya. Dia bilang dua jam lagi akan sampai di kabin.

Mengambil air minum di sungai
Mengambil air minum di sungai
Berjalan di hutan
Berjalan di hutan

Banyaknya sungai bikin kami jadi mudah mengisi air minum. Swedia kan terkenal dengan kebersihan airnya. Semua wastafel yang ada di seluruh Swedia saja bisa diminum, apalagi yang langsung dari alam seperti ini. Satu lagi yang perlu dicatat adalah kesadaran masyarakatnya untuk tidak mencemari sungai. Misalnya, pendaki yang mandi hanya mengambil airnya kemudian mandi jauh dari sungai, agar airnya tidak jatuh lagi ke sungai dan jadi kotor. Sesuatu yang patut kita contoh.

Jalur ini sedikit lebih naik turun dari sebelumnya. Sering kali juga harus melompati pohon besar yang tumbang menghalangi jalan. Berjalan di belakang Steve, saya melihat plastik sampah kami yang ia bawa, menggantung di belakang tasnya. Bangga juga, ikut menjaga kebersihan taman nasional.

Kabin Aktse rupanya lebih bagus dari ekspektasi. Dari jalur hutan terakhir, pemandangannya terbuka, hamparan rumput hijau halus yang luas, dengan tipikal rumah merah di tengahnya, dan gunung-gunung sebagai latar belakang. Kami melompat-lompat kegirangan. Hujan juga sudah berhenti dan berganti dengan sinar matahari yang mentereng. Tas-tas langsung di letakkan, kaki diluruskan, sambil membuka menu makan siang: roti tawar isi keju dan ayam. Tidak lupa juga berkeliling dan memotret pemandangan yang bagus ini.

Kabin Aktse
Kabin Aktse

Sedang asyik ngobrol sambil menyeduh teh panas, tiba-tiba kami didatangi perempuan berjaket merah. Kelihatannya pegawai kabin.

“Kalian jangan terlalu asyik dan lama di sini, karena ini daerah kabin privat. Kabin yang umum ada di sana.” Kata si ibu sambil menunjuk. Kami pun segera minta maaf dan membereskan barang-barang. Sudah waktunya lanjut berjalan lagi juga.

Menuju ke kabin umum, kami berkenalan dan ngobrol dengan satu keluarga Swedia. Mereka datang kesini dengan helikopter. Walaupun begitu, mereka tetap tidur di tenda. Ketika bertanya bagaimana rute di atas gunung, si bapak menjawab kalau jalannya berbatu dan dia menyarankan agar saya memakai sepatu saya. Agak takut dengan batu tajam yang bapak itu sebut, saya segera memakai sepatu saya.

Kabin Aktse ini milik STF. Organisasi turisme Swedia. Ada tiga kabin besar masing-masing terdapat sekitar 8-10 tempat tidur. Biayanya adalah SEK200 per orang per malam, setiap tempat tidur. Harga yang tidak terlalu murah ya. Di luar kabin, banyak tanah lapang untuk mendirikan tenda.

Kami bertemu pegawai STF bernama Peter dan bertanya informasi mengenai puncak gunung dan apakah ada tempat bertenda di atas gunung. Peter menjelaskan kepada kami, memperlihatkan peta yang lebih detail, dan juga memberikan tips lainnya. Ia mengingatkan kalau di atas gunung, tidak ada penanda jalur, jadi harus jeli melihat bekas jalan yang dilewati orang.

Karena di Aktse ada toilet yang lebih bagus (daripada toilet bebas di alam), kami menggunakannya sebelum berangkat naik. Ketika masuk toilet, ada tulisan, “Semua diharapkan menggunakan toilet dengan duduk. Termasuk para gentlemen. Jika tetap mau berdiri juga, silakan ke belakang bangunan ini”. Saya pun beranjak ke belakang seperti arahan. Di sana ada satu sudut di tanah dengan penanda “gentlemen”. Saya langsung tahu ini pojokan untuk pipis.

Sampai ke ujung atas, dengan cobaan

Aktse berada di sekitar ketinggian 500mdpl. Tujuan kami adalah Skierfe, puncak gunung yang kami lihat pagi tadi. Tinggi Skierfe adalah 1179mdpl. Naik lebih dari 600m rasanya tidak terlalu tinggi ya. Tapi dengan jarak hampir 8km menuju ke puncak, rupanya tidak semudah perkiraan. Yang menyenangkan dan menjadi penolong adalah, makin tinggi kita berjalan, makin bagus juga pemandangannya. Makin terlihat sungai bercabang yang ada di Rapadalen.

Akhsanto yang sebelum ini berjalan paling belakang sebagai sweeper, kali ini berjalan paling depan dan berjalan duluan. Kelihatannya dia tidak sabar melihat keindahan Rapadalen dari puncak gunung.

Steve, Ela dan Tuan
Steve, Ela dan Tuan
Jalan berlumpur, untung pakai sandal
Jalan berlumpur, untung pakai sandal

Sesuai yang disampaikan oleh Peter, bahwa jalurnya tidak ada tanda dan tidak terlihat. Walaupun sudah yakin jalan kami adalah jalan yang benar, tetap saja melewati jalanan berlumpur yang tidak terhindar. Saya pun mengganti sepatu dengan sandal kembali. Sempat tersesat sedikit walau akhirnya kembali ke jalur, setelah melihat pendaki lain. Kalau kontur di kaki gunung sebelumnya berpohon tinggi, di atas sini hanya batu, rerumputan dan pohon pendek. Jalur bebas, kalau saya menyebutnya. Karena bisa memilih arah dan jalan sesukanya.

Makin ke atas, makin banyak rusa yang kami lihat. Makin dekat juga ke gletser-gletser yang terlihat.

Sekitar jam 6 sore, setelah seharian jalan kaki (dan menanjak), akhirnya kami menemukan tempat yang bagus untuk bertenda. 2km dan sekitar 100m dari puncak Skierfe. Bersebelahan dengan sungai yang tidak terlalu deras, sehingga mudah mengambil airnya. Walaupun pemandangannya bukan Rapadalen, tapi tempat terbuka dengan sedikit lembah, dan latar belakang gunung salju, lumayan untuk dinikmati. Sambil makan sup jamur dan roti yang dicelup, kami bercerita tentang banyak hal.

Naik naik ke puncak gunung
Naik naik ke puncak gunung
Rusa yang ada dimana-mana
Rusa yang selalu ada menemani perjalanan

Di ketinggian seperti sekarang, tidak ada sebatang pohon pun yang terlihat. Semua rumput dan batu. Rumput dan batu. Kelompok rusa berjalan 50 meter dari kami. Sesekali melihat, kemudian berjalan lagi.

Setelah selesai makan dan istirahat, kami berencana naik ke atas puncak Skierfe sore ini, sebelum matahari terbenam, juga besok pagi sebelum berangkat pulang. Maklum, sudah jauh-jauh berjalan 20km lebih, agar lebih maksimal pemandangannya. Tapi sebelum ke atas, kami mampir dulu di gletser yang dekat dengan tenda. Tuan yang baru tiga hari sampai di Swedia, rupanya belum pernah menyentuh dan melihat salju secara langsung. Dia pun kegirangan ketika akhirnya menginjak gletser dan menyentuh saljunya. Sayang si Tuan tidak bisa ikut ke atas Skierfe. Dia kelelahan sekali tampaknya. Mungkin karena masih jetlag.

Mendaki tanpa tas, kami bisa lebih cepat dan lebih ringan bergerak. Lebih mudah berhenti ketika ada pemandangan bagus juga, untuk berfoto atau sekedar menikmati. Jalur menuju puncak Skierfe sebenarnya ada tandanya, tapi tandanya hanya batu yang disusun oleh pendaki sebelumnya. Tapi membantu sekali.

Skierfe rupanya benar-benar tempat foto-foto Rapadalen diambil. Pemandangan di atas sini sungguh menakjubkan. Walaupun awan lumayan banyak, tapi sinar matahari dari sudut rendah (satu jam sebelum terbenam) memberi warna tersendiri. Menurut Ela, pemandangan di sore ini lebih bagus daripada keesokan harinya di mana matahari sedang terang, di atas, dan langit sedang biru-birunya.

Rapadalen di sore hari
Rapadalen di sore hari

Yang saya sayangkan adalah curamnya jurang di tepian tebing Skierfe ini. Bikin kami, ketiga pria (saya, Akshanto dan Steve) ciut nyalinya dan panik ketika Ela yang tidak takut sama sekali akan ketinggian, berfoto tepat di pinggir tebing.

Setelah hampir satu jam di puncak, kami kembali turun ke tenda. Lelahnya sudah pas, pemandangan sebagai bayarannya juga sangat pantas, sekarang saatnya untuk tidur. Kami sempat berencana untuk bangun tengah malamnya untuk melihat hujan meteor Perseid yang dijadwalkan akan muncul malam ini. Siapa tahu juga bisa melihat Aurora, karena posisi kami memang sudah di lingkaran Arktik (Arctic Circle). Sayangnya sebelum kami tidur, awan masih tebal dan menutupi seluruh langit. Kemungkinan akan sepanjang malam seperti ini.

Rona merah senja di Sarek
Rona merah senja di Sarek

Satu lagi yang kami syukuri adalah: tidak adanya nyamuk! Karena terlalu dingin, sehingga tidak satu pun yang terlihat, walaupun sudah malam hari. Bicara tentang dingin, saya lupa tepatnya berapa suhu pada malam ini, tapi saya tidur dengan semua baju yang saya bawa. Longjohn, kaus kaki dan sarung tangan wol, jaket, dan kantung tidur, tapi tetap saja berasa dinginnya. Saya membayangkan, ini kan masih awal Agustus, bagaimana jadinya kalau Desember nanti. Mungkin itu alasannya semua kabin di gunung hanya buka dari Mei hingga September.

Sudah di posisi tidur tapi belum terlelap, kami mendengar suara-suara di luar tenda. Ternyata para rusa datang. Mungkin ingin minum di sungai, mungkin juga melihat kantung sampah yang kami letakkan di luar tenda. Malah pagi harinya, Steve bercerita kalau suara ngorok saya dijawab bersahutan oleh para rusa.

Mencuci piring bersama
Akshanto dan Steve mencuci piring bersama
Ela menyiapkan makanan
Ela menyiapkan makanan

Lanjut ke Bagian 3 atau kembali ke Bagian 1

Leave your comment here: