The Calm Before The Storm

Oleh: Philipe Gunawan.

The calm before the storm. Tenang sebelum badai. Mungkin frasa ini yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi sebagian besar mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh pendidikan di Swedia. Tidak terkecuali saya. Nama saya Philipe Gunawan, seorang mahasiswa asal Bandung yang sedang menjalani program magister Teknik Energi Terbarukan di KTH Royal Institute of Technology. Ritme hidup akademik saya yang selama ini terbentuk oleh insititusi pendidikan di Indonesia agaknya sama sekali tidak dapat diterapkan di Swedia.

Calm. Foto dari unsplash.com
Calm. Foto dari unsplash.com

Kerap saya mengingat, ujian di Indonesia selalu dimulai sebelum sebelum liburan lebaran (musim panas) atau liburan natal tahun baru (winter break). Pemenggalan tahun akademik seperti ini memang memberikan manajemen pikiran di mana otak mahasiswa dipaksa untuk bekerja tanpa lelah sebelum akhirnya “turun mesin” di liburan. Namun, Negeri di Utara memang selalu memiliki cara unik dalam melihat sesuatu. Dinginnya Swedia memang sebanding dengan dinginnya hati para dosen di sini. Semua ujian yang saya hadapi semester kemarin terjadi setelah libur natal tahun baru (winter break), tepatnya tanggal 10 dan diakhiri pada tanggal 14 Januari 2017 (betul sekali, 14 Januari jatuh pada hari Sabtu). Empat ujian dengan bahan yang sangat banyak (kira-kira 1.000 slide), belum ditambah buku cetak yang harus diberikan tanda post it untuk dibawa saat ujian (walau tidak banyak membantu juga) serta puluhan konsep yang harus dimengerti membuat persiapan ujian yang saya lakukan harus tertata dengan rapi dan terjadwal. Jika di kampus Indonesia saya selalu belajar tiga hari sebelum ujian, di sini saya tidak dapat melakukan hal serupa. Hal yang mustahil untuk membaca semua bahan itu jika H-3 untuk 4 ujian beruntun. Untuk empat ujian itu, saya pribadi membutuhkan ritme belajar yang disiplin selama tiga minggu penuh.

Lalu, mengapa belajar saja sampai dijadikan sebuah tulisan yang cukup panjang ini (dan mungkin menghabiskan waktu kalian yang membaca)?

Jawabannya ada tiga. Pertama, tantangan untuk belajar di liburan musim dingin itu adalah bagaikan menangkap lalat pakai sumpit mi bakso. Salju tebal menandakan temperature di luar ruangan sangat rendah. Ketika sedang dingin, pasti lapar. Kalau sedang lapar, dengan asumsi malas memasak, kita pasti akan membuat Indomie rebus pakai telur. Sesudah makan langsung mengantuk dan akhirnya tidur deh. Kalau kata orang Jawa, wes mangan turu sek penak. Ini memang siklus alamiah manusia dan sudah terbukti dengan kajian biologis mendalam.

Tantangan kedua, tidak seluruh anggota PPI Stockholm memiliki 4 ujian beruntun setelah libur musim dingin. Lalu paling enak saat musim dingin itu melakukan apa? Ya betul sekali, karena kita adalah orang Indonesia, ngerumpi dan bacot-bacot tentu saja menjadi daya tarik utama untuk mengisi liburan ditambah letupan kembang api rasa Eropa yang menanti di pengujung tahun. Untuk melewati tantangan ini, seseorang harus mampu melebihi ketangguhan para pemenang Benteng Takeshi.

Pelajaran. Foto oleh pexels.com/ Snuffkin44775
Pelajaran. Foto oleh pexels.com/ Snuffkin44775

Tantangan ketiga, teman-teman kami yang sedang berkuliah di kampus lain, kebanyakan dari mereka akan melaksanakan ujian sebelum libur musim dingin atau jauh (3-4 minggu) setelah libur musim dingin, sehingga masih memiliki banyak waktu untuk mempersiapkannya. Kalau mereka datang ke Stockholm, kelar sudah hidup kita. Jalan-jalan, makan-makan cantik dan selfie-selfie­ sudah pasti menjadi agenda wajib ketika menemani teman. Belum ditambah oborolan sebelum tidur (pillow talk) yang menyita waktu dan membuat kita bergadang. Pokoknya, sulit sekali untuk meluangkan waktu belajar. Terutama jika ungkapan “Ayolah, aing udah jauh-jauh dari Tanzania buat ketemu maneh masa aing dicuekin,” sudah keluar, selesai sudah persoalan.

Tentunya semua ini membutuhkan penyesuaian dan mental baja agar memperoleh hasil yang sebaik-baiknya. Salah satu tips dan saran dari saya, juga yang saya lakukan, adalah saya selalu mengingat untuk apa dan siapa saya berada di sini sekarang. Orangtua dan bangsa menunggu kita di tanah air untuk membawa pulang ilmu, gelar, dan segudang keahlian yang dapat dipakai untuk membangun negara. Bagi yang punya kekasih, mungkin si eneng sedang menunggu dengan mata berbinar bahwa kekasihnya sukses di negeri seberang. Harapan sebesar itu, semegah itu, jangan sampai dikecewakan hanya karena kesenangan belaka. Satu hal yang saya sangat pelajari dari berkuliah di luar negeri adalah penguasaan diri pribadi. If you want to change the world, start by changing yourself . Salam Olahraga!

Philipe Gunawan
KTH Royal Institute of Technology
M.Sc. in Sustainable Energy Engineering

Leave your comment here: