Berbagi Pengalaman dari Peraih Beasiswa Swedish Institute

DARI PERSIAPAN DOKUMEN SAMPAI MENTAL

Ditanggung biaya kuliah, tunjangan biaya hidup, tiket berangkat dari dan pulang ke tanah air, plus asuransi kesehatan. Inilah fasilitas-fasilitas yang diberikan The Swedish Institute (SI) kepada para peraih beasiswanya. Kompetitifnya program yang dibiayai Kementeriaan Luar Negeri Swedia ini terlihat dari informasi pihak SI bahwa prosentase penerima beasiswa hanya 1 – 3 persen dari pendaftarnya. Ketat memang, tapi bukan mustahil ditembus! Buat yang minat mencoba, berhubung pengiriman aplikasi untuk program 2019 – 2020 masih terbuka, yuk simak pengalaman dari beberapa peraih beasiswa SI.

Dari SISS Jadi SISGP

SI Holder 2018 Shelly Mardhia Faizy (berkerudung) dengan rekan-rekan saat observasi lapangan. Dok: Shelly

Ada yang berbeda dari program beasiswa the Swedish Institute (SI) 2019 dibanding tahun-tahun sebelumnya. Program yang didanai oleh Kementeriaan Luar Negeri Swedia ini telah berganti nama dari The Swedish Institute Study Scholarships (SISS) menjadi the Swedish Institute Scholarships for Global Professionals (SISGP). Selain nama program, jumlah negara yang terpilih masuk dalam daftar penerima juga berbeda alias menurun. Kalau tahun lalu ada 104 negara maka tahun 2019 pihak SI menyatakan jumlah negara penerima beasiswa SISGP menjadi 34 negara termasuk Indonesia. Website SISGP menginformasikan alasan penurunan jumlah negara ini sebagai upaya pemerintah Swedia menyelaraskan strategi pembangunan dalam bentuk peningkatan kapasitas, kemitraan, dan metode-metode yang mendukung agenda tahun 2030 untuk pembangunan berkelanjutan.

Untuk jumlah penerima beasiswa tahun lalu,  pihak SI menyatakan ada 180 orang dengan kelompok negara penerima terbagi dalam tiga kategori. Indonesia masuk dalam kategori dua bersama Brazil, Mesir, Kolumbia, Ghana, Iran dan Vietnam dengan jatah porsi beasiswa keseluruhan 60 orang. Awalnya saya mengira ini berarti setiap negara akan dijatah merata 10 orang penerima beasiswa. Namun kenyataannya, tidak seperti itu komposisinya.  Penerima SISS 2018 terdiri dari Brazil 6 orang, Kolumbia 9 orang, Mesir 14 orang, Indonesia 14 orang, Iran 9 orang, dan Vietnam 11 orang. Untuk tahun ini, jumlah penerima SISGP diperkirakan akan mencapai 300 orang. Oiya, perubahan lain yang tidak kalah penting buat penerima beasiswa tahun 2019 adalah: Pihak SI memutuskan kenaikan biaya tunjangan hidup.  Dari sebelumnya 9.000 SEK menjadi 10.000 SEK per bulan.

Visi Karir dan Tujuan Keberlanjutan

Antony Lee bersama puteranya di acara tradisi lokal, Thomanders Jul, di Lund. Dok: Antony

SI Holder 2013 Antony Lee telah bekerja sebagai jurnalis di salah satu harian nasional terkemuka saat muncul keinginan meneruskan pendidikan ke jenjang master. Pengalaman selama enam setengah tahun meliput isu-isu perkotaan membuatnya ingin vakum sejenak dari dunia kerja untuk fokus belajar di luar negeri dengan beasiswa tentunya. Setelah mengumpulkan informasi berbagai program beasiswa di sejumlah negara, ia mulai mengerahkan upaya ke satu demi satu program. Kegagalan meraih salah satu program beasiswa membuatnya merefleksi untuk memetik pelajaran. Diduga penyebabnya adalah karena jurusan yang ia ajukan sebagai pilihan karir di masa depan tidak sejalan dengan rekam jejak sebelumnya.

Tidak ingin mengulang kesalahan yang sama, saat menjajal untuk SISS, ia memastikan mencari jurusan yang sejalan dengan perjalanan karir dan visi profesionalismenya. “Saya ambil Global Studies di Lund University. Karena saya melihat arus globalisasi akan membawa implikasi di perkotaan melalui perubahan sosial,” Kata Antony mengaitkan pandangan karir lima sampai sepuluh tahun ke depan dalam pengisian motivational letter SISS. Antony sendiri kembali bekerja di media yang sama sekembalinya ke tanah air tiga tahun lalu.

“Motivation letter itu harus visioner tapi pragmatis pada saat yang sama. Orang yang visioner banyak karena pada dasarnya setiap orang bisa bermimpi. Tetapi sedikit yang bisa mengejawantahkan dalam bentuk faktual yang ada datanya,” SI Holder 2014 Ferdinand Padang menyampaikan argumen tentang apa saja yang perlu dipertimbangkan saat menulis motivation letter. Alumnus Strategic Entrepreneurship di Jönköping University ini mendapat inspirasi pembentukan visi karirnya saat bekerja di sebuah perusahaan asuransi, “Saya tertarik menekuni agri business karena (di tempat kerja) banyak teman-teman yang lulusan sekolah pertanian.  Saya merasa banyak anak-anak muda Indonesia yang tidak tertarik menekuni pertanian. Sementara, suka tidak suka, negara kita negara agraris. Mengapa kita tidak membangun berdasar apa yang jadi menjadi kekuatan kita?”. Maka di motivational letter-nya Ferdinand menyampaikan visi tujuan belajar kewirausahaan adalah ingin berkontribusi membangun profesi petani sebagai pengusaha pertanian (farming entrepreneur) yang bukan pekerja (farming labor).  “Saya berharap bisa mengubah mind set generasi berikut dari keluarga petani bahwa petani itu bisa kaya. Bukan yang sekali panen lalu uang habis,” Ulas Ferdi yang punya keinginan membangun bisnis dengan mitra para petani.  Sebuah perusahaan susu di Swedia menjadi acuannya dalam membangun usaha yang efektif mengunci peran tengkulak.

Salah satu kriteria dari calon penerima beasiswa SISS adalah kemampuan kepemimpinan untuk berkontribusi pada upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) 2030. Shelly Mardhia Faizy, SI Holder 2018, mengaku merasakan pentingnya memahami relevansi isu-isu SDGs saat persiapan mengisi aplikasi SI. Alumnus Geologi dari National University of Malaysia yang sempat menjadi guru sains di sebuah sekolah swasta di Pekanbaru, Riau, ini berupa mengkaitkan latar belakang pendidikan, kegiatan organisasi, dan pengalaman kerja pada satu pilihan isu berkelanjutan. “Aku pilih geothermal karena Indonesia sedang gencar mengeksplor renewable energy dan clean energy. “ Ujar peserta program master jurusan Earth Sciences (Geology) Uppsala University.

SI Holder 2016 Olivi Silalahi yang tahun lalu baru menyelesaikan master Public Health Programme di Umeå University merasa posisinya sebagai kandidat dari Indonesia Bagian Timur punya peran dalam keterpilihannya. Sempat ditempatkan dalam barisan cadangan urutan kedua, Oliv tidak menyangka jika pihak SI menyatakan dirinya dipastikan mendapat beasiswa. Berbekal pengalaman ini, Oliv meyakini bahwa tidak ada resep pasti soal keterpilihannya sebagai penerima beasiswa. “Bukan berarti lebih pintar tapi saya merasa beruntung saja,”Ujar konsultan World Health Organization yang berkedudukan di Jakarta ini. Mengenai motivational letter, Oliv mengakui keterbatasan kemampuan dalam mengelaborasi melalui tulisan. Untuk mengatasi hal ini, ia tidak ragu untuk meminta bantuan teman-temannya yang sudah mmiliki pengalaman serupa untuk melakukan review aplikasinya. “Sampai perlu lima kali revisi dan akhirnya yakin baru dikirim, “ Ujar Oliv.

Olivi Silalahi saat wisuda di Umeå University. Dok: Olivi

Persiapkan Kebutuhan Dokumen

Salah satu kelengkapan dokumen yang diminta SI adalah surat rekomendasi terkait pengalaman kerja dan organisasi. Menurut Shelly, pengalaman keterlibatan organisasi di Purna Caraka Muda Indonesia Propinsi Riau (PCMI Riau) menjadi salah satu poin yang mendukungnya berhasil meraih beasiswa SISS. “Ikut kegiatan pertukaran pelajar ke luar negeri, terus bikin konferensi internasional, ikut kegiatan kayak “Sapa Sekolah”, ini buat nunjukkin kepemimpinan, ya. Caranya aku tunjukkan apa peran aku di acara-acara yang pernah dibuat,” Tutur Shelly yang pernah mengikuti kegiatan pertukaran pelajar ke Korea Selatan. Antony juga menilai keikutsertaan pada program fellowship yang menunjukkan pengalaman hidup di luar negeri akan memberi nilai tambah tersendiri di catatan riwayat hidup. “Setidaknya menunjukkan kita punya kemampuan beradaptasi dengan perbedaan-perbedaan,” Tambahnya.

Kesiapan kelengkapan dokumen dan memperhatikan tenggat waktu pengiriman aplikasi juga mendapat sorotan dari para SI Holder. Oliv yang semula tinggal di Ambon sehingga perlu secara khusus menyiapkan kebutuhan tes IELTS ke Jakarta. Ia mengingatkan agar pengiriman aplikasi  tidak terlalu mendekati batas waktu mengingat kemungkinan server down menghadapi “serbuan” pengiriman sehingga bisa jadi kendala teknis yang mengancam peluang. Dari Antony ada tips agar penterjemahan kebutuhan dokumen, seperti ijazah dan transkrip, dilakukan jauh-jauh hari supaya masa pengisian formulir aplikasi benar-benar difokuskan pada konten jawaban.

Kesiapan Mental: Emosional dan Spiritual

Ferdinand saat di Stockholm, Swedia, usai acara Welcoming. Dok: Ferdinand

Selain sisi kualitas akademik dan profesionalisme, beberapa penerima beasiswa SISS tidak memungkiri persiapan aspek mental, yang mencakup emosional dan spiritual, menjadi bagian tidak bisa diabaikan. Ferdinand menegaskan, setiap kali ditanya apa kunci keberhasilan menembus SISS, maka ia akan selalu menyampaikan dua poin, “Pengisian motivation letter dan banyak berdoa. Kalau menurut saya, Tuhan mau lihat sejauh mana usaha kita. Maka saya lakukan yang terbaik saja. Setelah itu doakan karena Dia yang akan sempurnakan,”Tuturnya dengan nada tenang.

Lain lagi dengan Shelly. Ia mengaku sempat beberapa kali mencoba program beasiswa lain namun tidak kunjung berhasil. “Aku pikir (kegagalanku) apa mungkin karena orang tua nggak ijinin aku sekolah lagi?” Ungkap Shelly tentang hasil refleksinya. Maka sebelum mengajukan aplikasi ke SI, Shelly meminta secara khusus ijin dan restu orang tuanya.  Setelah itu, Shelly mengaku lancar mulai dari persiapan sampai pengumuman kelulusan. Antony punya pengalaman yang tidak kalah menarik. Jauh-jauh hari dari sebelum timbul niat mencoba meraih beasiswa, ia sudah menjalankan usaha membantu seorang anak dari keluarga kurang mampu. Aksi semangat memberi ia yakini mempengaruhi apa yang diperoleh kemudian. Jika segala persiapan sudah dilakukan tapi hasil belum sesuai harapan, Antony menyampaikan contoh kasus lain bagi mereka yang pantang menyerah atau lelah mencoba. Ia menutup perbincangan dengan pengalaman salah satu rekannya yang akhirnya berhasil meraih beasiswa setelah 20 kali mencoba.

Pengumuman SISGP 2019. Dok: SI

Suci Haryati

Master’s Programme International Communication

Jönköping University

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *