Bermain Ping Pong, IPK Mahasiswa Indonesia di Kampus Swedia Melebihi 4.00

Pengalaman setelah 6 bulan menempuh studi di Swedia terasa sangat berbeda dengan sebelumnya di Indonesia. Sebagai mahasiswa internasional, saya cukup dibuat paranoid saat membayangkan harus lebih mandiri serta aktif dalam update informasi seputar perkuliahan. Sewaktu menempuh S1 di salah satu kampus di Indonesia, tentu saja informasi seputar perkuliahan sangat penting dalam menunjang keberhasilan studi, seperti informasi mengenai jadwal kuliah dan ujian, pendaftaran ulang semester baru, sumber materi kuliah, tempat pengumpulan tugas, hingga informasi mengenai pengumpulan berkas atau administrasi untuk melaksanakan sidang dan memperoleh kelulusan. Lalu, bagaimana bisa saat kuliah di Swedia indeks prestasi yang didapatkan bisa melebihi nilai IPK maksimum di kebanyakan kampus di Indonesia? Saya, Sarah, mahasiswa master jurusan Nanoteknologi, Chalmers, akan menceritakan pengalaman mengenai sistem pendidikan yang terangkum dalam salah satu learning management systems, bernama Ping Pong.

PingPong adalah salah satu platformlearning management system yang digunakan di kebanyakan kampus di Swedia, khususnya Chalmers University of Technology. Selain Ping Pong, ditemukan pula platform serupa lainnya yang bernama Canvas. Namun, karena selama ini mata kuliah yang saya ambil tidak menggunakan Canvas, maka pembahasan pada artikel ini akan lebih berfokus pada fitur yang ada dalam Ping Pong.

Sebuah sistem manajemen pendidikan seperti Ping Pong memiliki beberapa fitur yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. Informasi dasar secara lengkap dihadirkan dalam platform ini, seperti informasi umum seputar mata kuliah, tujuan pembelajaran, kontak dosen dan asisten serta peserta mahasiswa di kelas, jadwal kuliah, daftar literatur, fitur chatting dan forum diskusi, hingga upload tugas/dokumen dan download materi-materi kuliah. Berdasarkan pengalaman, beberapa dosen mata kuliah yang saya ambil telah mengunggah konten sebelum perkuliahan di study period baru dimulai.Dengan begitu,saya bisa mempersiapkan diri sebelum masuk ke kelas dengan membaca slide presentasi yang akan diulas kemudian. Begitupun setelah sesi kuliah selesai, saya bisa dengan mudah mengakses kembali materi perkuliahan sekaligus mempelajari paket ujian daritahun-tahun sebelumnya (berupa soal berikut solusinya) yang juga sudah diunggah oleh dosen.

Tampilan awal Ping Pong di salah satu mata kuliah yang diambil

Tidak hanya saya, tentu saja mahasiswa lain serta para dosen juga aktif bermain ‘Ping Pong’ ini. Saya bisa melihat siapa saja yang sedang online sekaligus menyapa menggunakan fitur chatting yang ada. Tak jarang, saya juga aktif berkomunikasi dengan dosen jika ada suatu hal yang ingin ditanyakan yang untungnya, selalu mendapatkan respon yang cepat.

Umumnya, Ping Pong menawarkan Learning Management System secara lengkap untuk pembelajaran digital dan knowledge management. Fitur yang ditawarkan meliputi komunikasi, kolaborasi, pemantauan progress dan pencapaian,serta administrasi pendidikan. Namun, sebelum mengakses informasi dan konten pada Ping Pong,saya harus mendapatkan akses terlebih dahulu dan mendaftarkan mata kuliah yang akan saya ambil di sistem lain yang bernama Ladok. Selanjutnya,untuk mengakses Ping Pong hanya dibutuhkan koneksi internet dan browseryang bisa diakses melalui komputer ataupun aplikasi yang bisa diunduh di smartphone.

Fitur pengumpulan tugas di Ping Pong

Berhubung nilai akhir dari mata kuliah di Chalmers berada di rentang 1-5 untuk penilaian dengan angka (ada pula penilaian yang berupa pass/faildan A/B/C/D/E), maka untuk mendapatkan indeks prestasi lebih dari 4.00 dengan fitur yang ditawarkan Ping Pong bukanlah hal yang tidak mungkin.Learning Management System yang ada di kampus-kampus Swedia ini memang dikembangkan di negara Swedia sendiri yang mengusung dua tema bersama, yaitu pendidikan dan digitalisasi. Dengan adanya Ping Pong, sudah seharusnya proses belajar menjadi seru dan mudah. Semoga pengalaman inovasi yang didapatkan di Swedia bisa menginspirasi sistem pendidikan di Indonesia.

Sarah Zulfa Khairunnisa

Master Student in Nanotechnology

Chalmers University of Technology

Gothenburg

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *