Berpuasa Ramadhan di Swedia tahun 2016

Oleh Citamia Ihsana

Bulan Ramadhan adalah bulan yang ditunggu-tunggu bagi umat muslim di seluruh dunia, tidak terkecuali umat muslim di Indonesia. Pada bulan ini, kita diwajibkan untuk puasa satu bulan penuh. Dalam Islam, puasa dilakukan dari terbit sampai terbenamnya matahari. Uniknya, di masing-masing negara atau bagian waktu tertentu memiliki perbedaan panjang waktu antara terbit dan terbenamnya matahari. Di Indonesia kita sudah familiar dengan panjang waktu puasa ramadhan dimulai pukul 4.30 pagi sampai dengan 6 malam, kira-kira 14 jam puasa dalam sehari. Namun tahukah kalian? Negara Swedia, yang kita tumpangi untuk belajar ini memiliki perbedaan panjang waktu puasa yang cukup signifikan. Hal ini dikarenakan negara Swedia berada di belahan utara di bumi ini, ditambah juga sedang dalam musim panas, sehingga perputaran matahari dalam sehari menjadi lebih panjang. Di negara viking ini, saya harus berpuasa paling tidak sekitar 20 jam sehari! Mulai dari jam 2.30 pagi sampai 10 malam! Awalnya, sebagai anak rantau, saya sempat berpikir apakah bisa menjalani puasa selama itu. Tetapi ternyata setelah menjalani dua hari puasa di sini, alhamdulillah tidak mengalami kesulitan.

Menurut saya dan teman-teman lainnya yang tinggal disini, hal itu dikarenakan walau sudah memasuki musim panas, udara di Lund masih sejuk. Menurut kami juga, niat beribadah kepada Allah SWT dapat meningkatkan kekhusyuan sehingga insha’ Allah dalam menjalaninya terasa tidak berat.

Pengalaman puasa di sini terasa lebih mudah ketika dijalani bersama teman-teman Indonesia. Kami beberapa kali mengadakan buka puasa bareng dan juga sesekali sahur bersama.

Buka Puasa di rumah Mbak Dina (PPI Lund-Swedia)

Buka Puasa di rumah Mbak Dina (PPI Lund-Swedia)

Buka Puasa di rumah Mas Juno (PPI Lund-Swedia)

Buka Puasa di rumah Mas Juno (PPI Lund-Swedia)

Lalu, bagaimana agar bisa benar-benar survive dan sehat dalam berpuasa selama 20 jam? Berikut tips dari Zywielab yang ditulis oleh Alfi Airus Asna dan Muhamad Anca (ketua Ikatan Sarjana Gizi Indonesia).

Menurut Zywielab, mengonsumsi gizi yang seimbang ketika sahur adalah kunci yang penting agar dapat menjalani puasa dengan sehat. Hal ini didasari oleh empat prinsip, yaitu prinsip konsumsi aneka ragam pangan, perilaku hidup bersih, aktifitas fisik, dan memantau berat badan secara teratur.

Makan dengan karbohidrat yang tinggi serat seperti roti gandum dan oat sangat dianjurkan karena dapat membantu merasa kenyang lebih lama. Satu buah telur juga dapat membantu meningkatkan rasa kenyang. Selain telur, daging merah, ayam, dan ikan adalah protein yang juga dapat dikonsumsi. Jika ingin mengonsumsi protein tinggi serat, dapat memakan kacang-kacangan. Dalam mengolah semuanya, dianjurkan dengan cara dikukus/steam atau dipanggang. Untuk buah, pilih buah berwarna seperti apel dan pisang ambon. Sementara untuk sayuran, pilih yang berwarna hijau. Tidak lupa sebaiknya minum air putih 2-3 gelas sehari saat makan sahur.

Pada waktu berbuka, Zywielab menganjurkan untuk minum segelas air putih dan tiga buah kurma atau satu buah pisang ukuran sedang. Makanan besar/pokok dianjurkan dimakan setelah sholat magrib karena tubuh memerlukan waktu untuk beradaptasi. Soal makanan besar, Zywielab menganjurkan makan makanan pokok berupa nasi putih atau kentang (karbohidrat rendah serat). Sementara makanan lauk pauk dapat berupa daging ayam/ikan yang mengandung rendah lemak. Untuk sayur dan buah, sama seperti pada saat sahur, makanlah yang hijau. Juga air putih, kurang lebih 3-5 gelas. Tidak lupa puding dan buah-buahan dapat dimakan di sela-sela ibadah malam untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Untuk lebih detailnya, tips ini bisa dilihat di sini:
http://zywielab.com/tips-persiapan-sahur-untuk-puasa-selama-20-jam#sthash.6LSgNXR1.dpbs & http://zywielab.com/tips-berbuka-setelah-berpuasa-selama-20-jam

Selamat berpuasa teman-teman! ☺

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *