Ketika Tidak Mendapatkan Summer Job

Summer atau musim panas di Swedia, khususnya di Stockholm, jatuh pada bulan Juni, Juli, dan Agustus. Beberapa ciri khas dari musim panas adalah temperatur udara yang hampir selalu di atas 20 derajat Celcius (walau tidak setiap hari), mekarnya bunga rapsolja di banyak tempat, dan siang hari yang lebih lama. Matahari terbit sekitar pukul setengah tiga pagi dan terbenam bisa setengah sebelas malam. Tidak ada aktivitas perkuliahan selama musim panas.

Di kampus saya, awal Juni merupakan pekan ujian, lalu masuk ke libur panjang. Nanti di akhir Agustus kembali lagi pekan ujian, sebelum mulai tahun ajaran baru. Dalam masa libur tersebut, sebagian mahasiswa ada yang mengambil summer job atau summer internship, ada yang pulang ke negara masing-masing, ada yang jalan-jalan ke seputar Eropa, ada yang ambil data untuk tugas akhir, serta ada yang menetap sembari menikmati Swedia saat musim panas.

Summer Tahun Pertama

Menjelang summer tahun pertama, saya tidak kunjung mendapatkan summer job. Saya sudah mulai mencari informasi sejak akhir Januari atau ketika ada career fair di kampus. Hingga akhir Mei, saya belum juga menemukan titik terang dari belasan aplikasi yang saya kirim, baik ke tempat-tempat yang berhubungan dengan bidang studi maupun yang tidak berhubungan. Ada yang jelas menolak, ada pula yang tidak berkabar lebih lanjut. Belakangan saya tahu, teman saya ada yang mengirim puluhan aplikasi sampai ada yang menerima.

Gambar 1. Salah Satu dari Beberapa Penolakan Aplikasi Summer Job (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Oleh karena libur musim panas waktu itu bersamaan dengan momen lebaran yang jatuh pada tanggal 15 Juni 2018, akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke tanah air. Puji syukur saat itu ada rezekinya. Sisa waktu satu pekan di bulan puasa, saya melewatinya di Indonesia. Selain berkumpul dengan keluarga, salah satu hal yang mendorong saya untuk pulang adalah rasa rindu dengan kegiatan relawan yang dulu saya lakukan sebelum berangkat ke Swedia. Boleh jadi, mungkin niat baik tersebut yang membuat ada saja rezekinya untuk pulang.

Saya tergabung sebagai relawan di salah satu lembaga sosial kemanusiaan di kota tempat tinggal, yaitu Palembang. Singkat cerita, lembaga ini menyalurkan donasi dari pihak donatur dalam bentuk program pemberdayaan masyarakat. Para donatur berasal dari korporasi dan perorangan. Untuk korporasi, biasanya merupakan bagian dari corporate social responsibility (CSR) pihak perusahaan. Seminggu terakhir di bulan puasa, saya jarang di rumah karena diajak terlibat berbagai kegiatan terkait distribusi paket Ramadhan, bahkan di malam hari.

Setelah hari raya Idul Fitri, libur musim panas saya masih diisi dengan kegiatan relawan, namun dengan intensitas yang tidak sesering di bulan puasa. Beberapa di antaranya, khitanan massal dan layanan kesehatan di sejumlah daerah seputar Sumatera Selatan. Ada yang pergi pagi dan pulang sore, ada pula yang berangkat pagi dan pulang lagi ke Palembang tengah malam. Tugas relawan tergantung arahan dari pimpinan program, seperti bagian administrasi, pemandu acara atau MC, petugas dokumentasi, dan lain-lain. Siap untuk bisa multitalenta.

Gambar 2. Sebelum Aksi Layanan Kesehatan di Baturaja, OKU, Sumatera Selatan (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Bagi saya, bagian paling menyenangkan dari kegiatan seperti ini ketika para penerima manfaat tersenyum berterima kasih sembari berucap doa. Tentang kesehatan, rezeki, sampai jodoh. Momen tersebut adalah kebahagiaan yang tidak bisa dibeli di toko manapun. Dari segi finansial, mungkin takkan bisa jadi perbandingan, namanya juga relawan. Bukankah hidup ini tak melulu soal uang? Menjadi relawan adalah kesempatan berbagi, melatih kerendahan hati, bertemu orang beragam latar belakang, serta melihat negeri tercinta secara lebih dekat.

Pada akhir Juli, saya berangkat lagi ke Swedia. Ketika itu di Stockholm, ada acara yang namanya “Kampung Indonesia”, tepatnya tanggal 27-28 Juli 2018. Saya dan teman-teman PPI Stockholm berkesempatan ikut sebagai panitia bersama KBRI Stockholm. Ada yang di perlengkapan, acara, dokumentasi, konsumsi, dan lain-lain. Kegiatan kepanitiaan antara lain rapat persiapan, loading barang dari KBRI dan wisma ke venue acara, serta bertugas menurut job description secara dinamis, sesuai bagian masing-masing pada hari pelaksanaan acara.

Gambar 3. Sebelum Acara Hari Kedua “Kampung Indonesia” di Stockholm, Swedia (Sumber : Dokumentasi KBRI)

Memasuki bulan Agustus, selain bersiap diri untuk tahun ajaran baru, saya pun bersiap diri untuk ikut re-examination. Ujian ini diperuntukkan bagi mahasiswa yang belum lulus mata kuliah dan yang ingin meningkatkan nilai. Pada waktu itu, ujian dilaksanakan satu hari setelah hari raya Idul Adha. Bukan suatu hal yang memalukan untuk ikut re-examination, siapapun dan apapun pertimbangan kita memutuskan untuk melakukannya. Selama tujuannya baik, tentu hasilnya juga baik. Dan selesai sudah, summer tahun pertama saya di Swedia.

Summer Tahun Kedua

Saya tidak menyangka masih harus mengerjakan tugas akhir atau master thesis project saat musim panas. Jika berjalan sesuai rencana, tugas akhir bisa selesai di bulan Juni. Namun hingga saya menulis cerita ini, supervisor masih terus memberi arahan. Beliau memang telah memberi tahu kira-kira bulan apa tugas akhir saya nanti selesai, akan tetapi sampai sekarang belum terlihat tanda-tanda akan berhenti. Jadi, dinikmati saja selagi ada kesempatan menimba ilmu, bukan begitu? Jika memungkinkan, nanti akan saya tulis pengalaman tesis master ini.

Gambar 4. Salah Satu Sudut Ruang Kerja Saya di Laboratorium Kampus (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Saya tidak lagi terlalu berambisi mendapatkan summer job, meski juga masih mengirim sejumlah aplikasi ke berbagai tempat. Selain ke kampus, seiring waktu, tahun kedua ini lebih saya manfaatkan untuk tinggal di Stockholm dan menikmati musim panas di sini. Banyak sekali maintenance yang dilakukan, seperti perbaikan eskalator di fasilitas umum, renovasi stasiun metro, renovasi bangunan lain, serta perbaikan jalan dan halte bus di sudut-sudut kota. Suasana kota terasa lebih sepi, tidak seramai hari-hari sebelum dan sesudah musim panas.

Untuk tahun 2019 ini, acara “Kampung Indonesia” akan dilaksanakan kembali seperti tahun lalu. Salah satu bagian acaranya adalah penampilan kesenian, untuk tahun lalu seperti angklung dan tari daerah. Kali ini, rencananya akan ditampilkan juga seni musik gamelan. Selain diundang KBRI untuk menjadi panitia, saya dan teman-teman PPI Swedia yang bisa ikut, berkesempatan untuk turut serta ambil bagian dalam gamelan. Bersama para pemain dari tim selain mahasiswa, kami sekarang lebih rutin berlatih untuk persiapan akhir Juli nanti.

Bagi saya, bermain gamelan sendiri sebenarnya merupakan hal baru. Saya tidak pernah bermain gamelan sebelumnya di Indonesia. Bahkan, saya sama sekali tak punya pengalaman berkesenian. Puji syukur di Swedia, selain menambah pengetahuan dan pengalaman dari segi akademik, dari segi non akademik juga demikian, salah satunya dengan belajar berkesenian daerah. Secara filosofis menurut kakak pelatih, ada berbagai alat musik di gamelan yang semua punya kedudukan seimbang satu sama lain. Ada yang suaranya nyaring, ada yang suaranya pelan. Bukan lantas kemudian yang bersuara pelan harus diberi pengeras suara tambahan, melainkan yang bersuara nyaring harus menyesuaikan agar yang pelan juga bisa terdengar. Begitu pula dengan penyanyi, pemain alat musik juga harus bisa menyesuaikan.

Di lain waktu, biasanya akhir pekan, ada beberapa kegiatan yang bisa dilakukan dengan teman-teman. Salah satunya adalah barbeque, namun perlu diperhatikan aturan yang berlaku. Jika udara dirasa terlalu panas, biasanya ada larangan dalam arti barbeque boleh dilakukan namun di tempat-tempat tertentu. Beberapa waktu lalu, saya dan teman-teman mengadakan barbeque di salah satu kediaman teman kami di utara wilayah Stockholm. Ada yang bawa potongan daging sapi, kecap, jagung, sayuran, buah, minuman, nasi, dan pelengkap lainnya.

Selain itu dengan cuaca cerah dan siang hari lebih lama, musim panas bisa dimanfaatkan untuk lebih menikmati nuansa alam di Swedia, seperti berkunjung ke taman nasional. Kalau dari ibukota, yang terkenal adalah Tyresta National Park di selatan wilayah Stockholm. Kita bisa hiking, camping, atau berenang di sana. Ada penunjuk arah sehingga para pengunjung bisa menentukan sendiri rute perjalanan masing-masing. Bagian favorit saya adalah sebuah danau. Kita bisa menyantap bekal sembari memandang alam untuk menyegarkan pikiran.

Gambar 5. Salah Satu Pemandangan Alam di Tyresta National Park, Stockholm, Swedia (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Untuk menunggu malam tiba, saya kadang bepergian ke mana saja dengan transportasi umum. Sesekali sambil baca buku di metro atau di bus. Nah di sini, baru terasa lebih nyata beberapa hal tidak enak di Swedia. Pertama, toilet umum (apalagi yang gratis) jarang sekali dijumpai, termasuk di stasiun. Kedua, jajanan street food sama sekali tidak ada, jajanan di sini serba roti dan tidak dijajakan oleh pedagang kaki lima. Akan tetapi, saya melihat bahwa peraturan yang berlaku, jika dilaksanakan bersama sepenuhnya bisa menciptakan ketertiban.

Epilog

Pada intinya, ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan saat libur musim panas, sekalipun tidak mendapatkan summer job. Semua kembali lagi pada bagaimana kita memanfaatkan waktu secara lebih positif, terlebih lagi dengan hal-hal yang dapat menambah pengetahuan, pengalaman, dan meningkatkan kapasitas diri. Seperti salah satu ajaran agama saya, ada lima perkara sebelum lima perkara, salah satunya adalah waktu luang sebelum waktu sempit. Sebagai penutup, selamat beraktivitas bagi semua. Semoga bermanfaat dan sukses selalu.

Ahmad Satria Budiman – Stockholm
Macromolecular Materials
Master Program – KTH Royal Institute of Technology

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *