Konferensi Persatuan Pelajar Indonesia Nordik Baltik ke-2

Logo NBISC

Stockholm, 5 Desember 2015 – Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Nordik Baltik, yang terdiri dari delapan PPI di Swedia, Denmark, Finlandia, Estonia, Lituania, Latvia, Norwegia dan Islandia, menyadari pentingnya mendiskusikan potensi dari negara masing-masing, dengan harapan dapat membantu pembangunan Indonesia di kemudian hari.  Hal ini direalisasikan pada konferensi “Nordic Baltic Indonesian Scholar Conference” (NBISC) yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 5 Desember 2015, di Stockholm, Swedia.

Peserta Konferensi PPI Nordik Baltik 2015 berfoto bersama

Peserta Konferensi PPI Nordik Baltik 2015 berfoto bersama

Dalam keterangannya, Agung Chris Setiadi sebagai ketua panitia menjelaskan bahwa ”NBISC  adalah ajang tahunan dimana para peneliti/pelajar indonesia berkumpul dan menjalin komunikasi antar disiplin. Selain itu, tahun ini kita mecoba membangun diskusi mengenai potensi-potensi kontribusi keilmuan wilayah Nordik-Baltik untuk Indonesia. Jargon “a glimpse into the future” kita pilih untuk menggambarkan tujuan NBISC dan  juga merepresentasikan harapan kita untuk terciptanya visi masa depan Indonesia yang lebih baik sebagai hasil dari NBISC.”

Hal ini dipertegas pula oleh Benni Yusriza, Koordinator Umum Persatuan Pelajar Indonesia di Swedia (PPI Swedia). ”Saya percaya, jika kita serius memetakan penelitian-penelitian mahasiswa Indonesia di wilayah ini, bukan tidak mungkin pelajar di sini dapat memberikan perspektif alternatif untuk membantu memahami masalah-masalah yang ada sekarang dengan lebih dalam.”

Acara ini dibuka dengan sambutan dari Dewa Made Juniarta Sastrawan, Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Swedia dan Republik Latvia, dan diikuti dengan presentasi oleh 9 pembicara.

“Nordik dan Baltik ini punya beberapa kekhasan. Salah satunya untuk bidang penelitian. Umumnya mereka yang ingin melanjutkan jenjang doktoral, mereka berstatus sebagai pekerja akademik. Jadi apapun penelitian mereka, sudah dapat dipastikan berguna dan tidak tersimpan begitu saja. Hal ini dapat terjadi karena kawasan ini menerapkan pola hubungan antara universitas, pemerintah, dan industri dengan sangat baik atau yang biasa disebut dengan triple helix.” Dewa Made menyampaikan dalam sambutannya.

Dewa Made Juniarta Sastarawan, Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Swedia dan Republik Latvia, membuka rangkaian acara NBISC

Dewa Made Juniarta Sastarawan, Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Swedia dan Republik Latvia, membuka rangkaian acara NBISC

Senada dengan duta besar, Agus Pramono, Ketua PPI Estonia, juga berharap selain pemetaan keilmuan, ke depannya konferensi ini dapat menjadi stimulus bagi pelajar di Indonesia untuk datang dan belajar di kawasan ini.

“Kami berharap, Nordik-Baltik ini menjadi sebuah acuan atau barometer pendidikan dan keilmuan, sehingga banyak mahasiswa atau calon mahasiswa dari Indonesia menuntut ilmu di kawasan ini. Karena terbukti bahwa kawasan ini memiliki link and match keilmuan yang sangat bisa diandalkan”

Ilmu Hayati dan Kesehatan, Sains dan Rekayasa Teknologi, serta Ilmu Humaniora merupakan tiga bidang fokus utama yang diangkat dalam konferensi NBISC kali ini.  Terhitung sebanyak 17 peserta mendaftar dan mengirimkan abstrak topik riset dari berbagai bidang ilmu, yang kemudian diseleksi menjadi 7 peserta untuk dipresentasikan. NBISC kali ini dihadiri oleh 60 peserta yang merupakan gabungan dari pelajar dan profesional dari Indonesia yang sedang berada di wilayah Nordik Baltik.

NBISC dibagi menjadi 3 sesi presentasi dan 2 sesi keynote speaker. Sesi presentasi pertama dibuka oleh Dhany Saputra dari Denmark dan Lakshmi Shandow dari Swedia. Sesi keynote speech pertama diisi oleh Basuki Endah Priyanto, seorang profesional yang berkarir di salah satu perusahaan elektronik multinasional Jepang yang bertempat di Lund, Swedia. Dalam presentasinya, beliau mengangkat tema “Creating New Communication Technology for the World”.

Agus Pramono, Desak Deni, dan Windi Muziasari sedang melakukan pemaparan materi

Agus Pramono, Desak Deni, dan Windi Muziasari sedang melakukan pemaparan materi

Sesi kedua presentasi dibawakan oleh Fumi Harahap dan dilanjutkan oleh Dimas Bayu Endrayana Dharmowijoyo, yang keduanya berasal dari Swedia. Dilanjutkan dengan sesi keynote speech oleh Muhamad Reza dengan tema “Tantangan berkarier di Eropa – pembelajaran untuk Indonesia”. Beliau merupakan salah satu profesional yang pernah menempuh studi s2 dan s3 di Delft University, Belanda dan saat ini sedang bekerja di Swedia. Sesi presentasi terakhir dibuka oleh Agus Pramono dari Estonia, dilanjutkan oleh Desak Deni dari Swedia, dan diakhiri dengan presentasi oleh Windi Muziasari dari Finlandia.

 

Sampai jumpa di NBISC 2016!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *