Memperkenalkan Keberagaman dalam Kebersamaan

Tiga piring yang masing-masing menyajikan mie goreng, risol, pecel dengan saus kacang terpisah tertata rapi di sebuah meja. Wadah piring kertas untuk icip-icip juga tersedia bersama satu botol berisi seduhan jahe dan sereh yang telah siap dinikmati.  Layar televisi sudah beberapa kali memutarkan video klip keindahan Indonesia dalam kemasan promosi pariwisata. Persis jelang pukul 12 siang, “OK, you can start now.” Salah satu panitia pelaksana Culture Day di Universitas Jönköping memberi kode pada tim Indonesia bahwa acara sudah bisa dimulai. Jeng jeng!

Tim “Indonesian Culture Day” campuran pelajar dan WNI pemukim di Jönköping Dok: M. Zulkarnaein

Keroyokan Mempersiapkan

Hampir seminggu sekali bertempat di lobi gedung jurusan Pendidikan dan Komunikasi, kampus Univeristas Jönköping, digelar ajang yang menampilkan keunikan budaya negara-negara asal pelajar. Sebelumnya ada Kanada, Italia, Cina, Belanda, dan sejumlah negara lainnya sempat tampil mengisi agenda. Pada Jumat, 7 Desember, giliran Indonesia tampil mengisi ajang Culture Day atau Hari Budaya.

Persiapan acara dilakukan kurang lebih dua minggu oleh lima orang Warga Negara Indonesia (WNI) berstatus pelajar di kampus Jönköping. Terdiri dari dua peserta program magister yaitu Mujiya Ulkhaq dan saya sendiri, peserta program pertukaran pelajar magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Mochammad Zulkarnain dan Anita Hutahaean, dan Yohanes Mulya yang biasa disapa Jojo dari program sarjana International Business. Di acara ini, tim sepakat untuk memperkenalkan keberagaman budaya Indonesia melalui beberapa rangkaian tampilan. Terdiri dari  sajian makanan utama dan cemilan khas Indonesia, lagu-lagu daerah, kuis, dan nari bareng Poco-Poco.

Pengunjung mulai berdatangan ke stan Dok: Suci

Di awal pembukaan acara, tidak banyak pengunjung yang tertarik menghampiri meja stan. Kami pun berupaya ‘jemput bola’ dengan menyapa orang-orang yang lalu lalang dan menyampaikan keberadaan kami untuk mempromosikan budaya Indonesia. Tidak dipungkiri, tampilan sajian di meja menjadi daya tarik utama yang membuat pengunjung mulai mendatangi stan. Bersyukur rasanya mendapat bala bantuan dari WNI setempat untuk campur tangan dalam persiapan. Sulistyowati Anastasia, Setiyani Muchtar, Nina Zuhadmono dan Trisna Nagris adalah WNI yang saat ini bermukim di Jönköping untuk mendampingi sang suami bertugas disini.  Mereka tak ragu mengulurkan tangan menyediakan sajian. Selain tentunya ini merupakan peluang menjalin silaturahim dengan rekan se-tanah air. “Bagus (acaranya), pas banget buat pertemuan karena jadi kumpul sama semua teman dari Indonesia,” Kesan Setiyani.

Penampakkan sajian di “Indonesian Culture Day”. Dok: Trisna Nagris

Keberagaman Menarik Perhatian

Sambil menikmati sajian, kami mulai unjuk kemampuan berolah vokal dengan lagu-lagu daerah. Dibuka dengan Indonesia Pusaka yang memancing sentimen kerinduan pada kampung halaman, lanjut dengan Ampar-ampar Pisang, Yamko Rambe Yamko, dan Rasa Sayange. Atraksi ini ternyata cukup menarik perhatian. Semakin banyak yang mendatangi stan dan menanyakan seputar sajian. . “Saya terkesan dengan kehangatan orang-orangnya dan makanannya juga. Betapa kayanya budaya kalian yang sebelumnya saya tidak tahu dan seharusnya saya tahu,” Amarildo Alberto Come dari Mozambik, salah satu partisipan acara, menyampaikan kesan tentang acara ini.

Mengingat kerumunan sudah cukup kondusif untuk beralih ke atraksi lain yang lebih melibatkan partisipasi: kuis. Muji mulai menampilkan satu demi satu slide yang menanyakan keunikan-keunikan Indonesia seperti berapa jumlah pulau, nama candi terbesar, bahasa nasional, dll. Dari 10 pertanyaan diajukan, tiga pemenang terpilih dengan juara pertama Vivek (India) memiliki skor 8 jawaban benar, juara dua dan tiga sama-sama meraih skor 7 oleh Linea (Cina) dan Leo. “Saya sebenarnya tidak terlalu tahu banyak soal Indonesia waktu awal datang ke Swedia. Tapi karena saya kemudian punya teman-teman dari Indonesia maka saya jadi tahu beberapa hal tentang budaya Indonesia,” Vivek Patel menyampaikan alasan kemenangannya.

Para pemenang kuis (ki-ka): Linae (Cina) – Vivek (India) – Leo (Itali). Dok: Suci

Menjelang penutupan acara, kami mengajak para pengunjung menari Poco-Poco. Suasana lobi semakin riuh karena aksi ini tentunya. Terdengar seruan “Dapet…dapet iramanya!”dari beberapa peserta yang mulai mengenal pola harmonisasi gerakan dan irama lagu. Tidak terasa satu jam durasi acara akan segera berakhir. Sekedar mengingatkan bahwa kita semua sesungguhnya adalah warga dunia, Jojo mengusulkan satu lagu yang mengingatkan akan universalisme mimpi pada perdamaian dalam keberagaman. Syair “Imagine” dari John Lennon pun terpampang di layar. Bergandengan tangan, seluruh pengunjung hanyut membawakan lagu diiringi petikan gitar Jojo. “Semua orang bisa begitu terlibat. Semua orang ikut bernyanyi dan menari. Masakannya enak dan kita belajar banyak hal tentang Indonesia,” Rita Stefanuto mewakili panitia pelaksana kegiatan Culture Day di kampus menambah kesan positif dari pengunjung akan pelaksanaan “Indonesian Cultural Day” yang sekaligus menutup rangakaian program Culture Day di Universitas Jönköping di tahun 2018.

Selesai Poco-poco, lanjut menyanyikan “Imagine”-nya John Lennon. Dok: M. Zulkarnain

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *