Surga Barang Gratisan itu Bernama ”Waste Station”

Gambar 1. Waste Station di Vildanden. Uniknya, pintu ini bisa dibuka dengan kunci kamar masing-masing penghuni, tapi kunci kamar kita tentu saja tidak bisa untuk membuka kamar orang lain ya hehe.

Menjadi satu-satunya mahasiswa Lund University asal Indonesia yang mendapat housing kosongan atau tanpa perabot pada saat saya datang, membuat saya akhirnya banyak mencari tahu tentang bagaimana mendapatkan perabot kamar dengan harga murah.

Yup, sekedar pengantar saja untuk tulisan saya, bahwa ketika diterima di Lund University, kita sebenarnya sudah mendapat jaminan untuk mendapatkan housing dari LU Accomodation (penyedia jasa housing untuk student) dikarenakan kita adalah mahasiswa dari non Europe. Kita diberi kesempatan memilih sampai dengan 5 pilihan, tetapi nantinya universitas yang menempatkan kita. Jika beruntung, bisa mendapat yang murah, namun jika tidak, bisa saja jauh dan mahal. Seperti yang saya alami saat itu saya mendapat housing yang mahal dan jauh.

Solusinya adalah mendaftar AF Bostader, yaitu sebuah perusahaan penyedia jasa housing untuk student, yang dikenal lebih murah. Umumnya, mahasiswa di Lund, baru tahun kedua atau semester selanjutnya pindah ke AFB, karena tidak mau repot atau masih takut untuk coba-coba penyedia housing selain milik universitas. Tapi, jika bisa sejak awal kenapa tidak? Sistem antriannya juga unik, karena kita di sini mendaftar untuk kemudian diundi, lalu kita mendapatkan nomor antrian secara acak. Nah, hasil undiannya, kebetulan saya mendapat nomor antrian yang cukup bagus, sehingga singkat cerita saya bisa mendapatkan housingNamun dikarenakan pada waktu itu saya kurang teliti saat men-submit tipe housing yang saya pilih, jadilah saya mendapat yang tanpa perabot, alias kosongan. Memang saya paling murah dibandingkan semua teman-teman angkatan saya, hanya 3156 SEK atau sekitar 5 juta per bulan (dengan range harga housing untuk tipe koridor antara 3000-4000 SEK).

Dari sinilah, saat berkonsultasi dengan senior saya, muncul kata-kata ”Waste Station”. Sesuai namanya, berarti ini adalah tempat sampah. Eitss jangan dibayangkan tempatnya kumuh dan bau kayak di Indonesia ya hehe. Awalnya saya tidak percaya kalau katanya di sini bakal ada sofa, kasur, lemari, bahkan alat elektronik seperti iPad yang masih berfungsi akan dibuang di sini. Tapi setelah membuktikannya, saya jadi ketagihan untuk tiap hari cek di Waste Station ini =)) . Namun, perlu diingat bahwa tidak semua Waste Station  memperkenankan barang-barang tersebut untuk diambil oleh umum. Semua tergantung kebijakan housing. Jadi, ketika kelak ke Swedia, pastikan barang-barang di Waste Station boleh kamu ambil secara legal dengan membaca ketentuan housing tempat kamu tinggal.

Gambar 2. Contoh Barang yang saya temukan di Waste Station. Ini bener-bener masih berfungsi baik dan lancar.

Nah, tentu saja teman-teman sudah tahu kan, bahwa untuk membuang sampah di Swedia harus dipisah menjadi 7 jenis untuk sampah sehari-hari. Namun, untuk sampah yang sifatnya seperti alat elektronik, kasur, dst, ada tempat yang dinamakan Waste Station.

Tentunya muncul pertanyaan di benak teman-teman, apakah orang Swedia se-kaya itu sehingga suka membuang barang-barang bagus ke Waste Station? Jawabannya tentu saja tidak. Setidaknya ada dua penyebab mengapa banyak barang-barang bagus di Waste Station.

Pertama terkait aturan penghuni housing. Jika kita akan pindah dari housing tersebut, maka kamar harus dikondisikan seperti pada awalnya. Jika memang tidak ada perabot, ya harus dikosongkan. Nah, biasanya orang-orang menjual barangnya melalui Forum Jual Beli di Facebook dengan harga yang tentu saja sangat murah. Jika tidak laku, bagaimana? Terpaksa harus dibawa ke Waste Station itu tadi. Sebab, jika ada satu saja barang yang tertinggal atau kamar kurang bersih malah terkena denda. Nah sebab itulah, apalagi saat akhir semester ganjil, atau awal tahun ajaran baru dimana para mahasiswa pindah housing atau mereka sudah menyelesaikan studinya, Waste Station malah seringkali tumpah-tumpah barang-barang di sana hehe. 

Kedua, terkait prinsip orang Swedia yaitu lagom. Lagom artinya cukup, tidak terlalu banyak atau tidak terlalu sedikit. Orang Swedia tidak suka menumpuk barang di kamarnya. Oleh karena itu, jika merasa sudah tidak dibutuhkan, maka mereka membuangnya sekalipun barang itu masih bagus. Contohnya ya laptop yang saya temukan tadi.

Dengan adanya Waste Station itulah saya bersyukur sekali, karena bisa dibilang 90% perabotan di kamar saya yang awalnya benar-benar kosongan (bahkan di hari pertama saya datang, saya tidur beralaskan sajadah haha), sekarang menjadi terpenuhi. Ini beberapa foto barang-barang ”jarahan” saya di kamar.

Gambar 3. Rak makanan (kiri), rak sepatu (kanan), dapat dari Waste Station. Oh ya, ada beberapa tupperware dan termos di rak makan juga yang dapat dari Waste Station.

Gambar 4. Meja, kursi, lampu, speaker logitech, juga dapat dari Waste Station. Oh ya itu karpetnya beli bekas ya, tapi saya juga beberapa hari yang lalu juga menemukan karpet serupa di Waste Station.

Gambar 5. Meja, microwave, kursi di sebelah kiri, dan tripod (sisi kanan) itu saya juga menemukan di Waste Station

Gambar 6: Printer laserjet, laci hitam, dan SD Card Biru  ini juga berasal dari  Waste Station.

Dan masih banyak lagi seperti alat kebersihan (sapu, cikrak, dan alat pel), alat-alat masak (teflon, pisau, wajan, dst), router, lampu tidur, timbangan berat badan, bantal, selimut, duvet, sepatu boot, sandal, dan lain sebagainya. Beberapa waktu lalu juga ada TV, komputer, dan lainnya di Waste Station (yang akhirnya saya menyesal kok tidak saya ambil, kan bisa dijual hehe).

Nah, melihat peluang seperti itu, entah otak bisnis saya jadi muncul deh. Hampir setiap hari saya memungut barang yang sekiranya masih bagus, lalu diiklankan di FJB Facebook. Terakhir kali saya bisa menjual wifi router yang masih bagus dengan harga 100 SEK. Bahkan di kamar saya sekarang menumpuk beberapa barang yang siap dijual hehe (laptop, speaker, wifi router, lampu, dst). Lumayan kan buat tambahan uang untuk jalan-jalan.

Jadi masih takut dapat housing kosongan di Swedia? Jawabannya tidak! Saya malah merekomendasikan karena selain harganya murah, teman-teman juga tidak perlu takut jika barang-barangnya rusak (entah karena memang sudah waktunya, atau karena by accident), karena itu barang-barang teman sendiri. Hanya saja memang sedikit repot karena perlu mengangkat barang-barang itu ke kamar saat awal pindahan, serta nanti jika sudah selesai studi. Anyway, besok dapat ”harta karun” apalagi ya? Hehe..  

Mushonnifun Faiz Sugihartanto
Mahasiswa M.Sc Logistics & Supply Chain Management
Lund University

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *