Serial Tesis: Etape Akhir yang Berliku

Untuk melengkapi kisah Sania tentang master thesis, kali ini saya akan berbagi hal sama namun dari sudut pandang berbeda. Oleh karena itu, saya berharap dua hal terlebih dahulu. Pertama, luangkan waktu khusus. Jangan membaca tulisan ini jika kamu sedang mengerjakan sesuatu, sehingga tulisan ini tidak menyita waktumu dan tidak merusak fokusmu. Lalu kedua, jadilah gelas kosong. Jangan merasa diri paling pintar dan paling benar, sehingga kamu bisa mengambil yang baik dan meninggalkan yang buruk dari cerita ini.

Jadi, sudah siap? Mari kita mulai.

Tentang Menentukan Pilihan

Pada akhir masa perkuliahan di periode pertama semester ketiga, saya bertanya kepada program coordinator mengenai topik-topik apa saja yang bisa dikerjakan sebagai tugas akhir untuk mahasiswa master. Sebab salah satu mata kuliah yang saya ambil ketika itu memberi beberapa tawaran topik untuk master thesis. Dua teman di kelas tanpa berlama-lama segera mengambilnya. Sementara saya masih mempertimbangkan sejumlah hal.

Ada enam divisi riset di departemen yang menaungi program studi saya. Tentu kelima divisi lainnya juga punya topik-topik yang tak kalah menarik. Mengerjakan tesis di kampus artinya melakukan riset di salah satu dari divisi yang ada. Oleh karena itu, saya bertanya dan dijawab akan diadakan pertemuan khusus. Tidak lama, diadakan yang namanya speed dating dimana perwakilan tiap divisi riset hadir untuk memaparkan topik-topik tesis.

Seingat saya, saat itu ada sebelas orang, artinya ada divisi yang diwakili beberapa orang. Ada yang titelnya professor, ada yang associate professor, dan ada pula PhD student, namun intinya mereka adalah calon supervisor atau yang akan menghubungkan mahasiswa dengan supervisor. Setiap mahasiswa dipasangkan dengan mereka, lalu berlangsung dialog kira-kira tujuh menit. Saat waktu habis, pasangan bertukar dan bergeser ke sebelahnya.

Gambar 1. Tempat Saya Mengerjakan Tesis di Kampus (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Untuk tugas akhir mahasiswa master di Swedia, kita bisa mengerjakannya di kampus, di perusahaan, atau di luar Swedia. Bagi yang ingin di kampus, bisa juga mencari informasi di papan informasi kampus atau bertemu langsung dengan calon supervisor. Tidak semua program punya speed dating untuk master thesis. Bahkan ada program yang tak menyediakan topik sama sekali. Di samping itu, mahasiswa juga bisa mengajukan topik sendiri.

Bagi yang ingin di perusahaan, bisa datang ke career fair atau event-event terkait, bisa kontak langsung atau kirim aplikasi ke perusahaan, atau bisa bertanya ke diaspora Indonesia yang siapa tahu ada lowongan master thesis di tempatnya bekerja. Bagi yang ingin di luar Swedia, diperhatikan masa berlaku residence permit agar bisa kembali masuk ke Swedia jika sudah selesai untuk melakukan master defense bagi yang sidangnya di kampus.

Tentu di mana pun, ada prosedur dan pertimbangan masing-masing. Ada kelebihan, ada kekurangan. Hanya diri kita yang menjalaninya sendiri yang paling tahu mana yang terbaik. Sejak awal, saya sendiri berniat untuk tesis di kampus. Selain lokasi dan fasilitasnya cukup akrab, kelak saya berencana meniti karir di bidang akademik. Seusai speed dating, saya buka lagi catatan dan baca lagi selebaran yang diberikan, lalu menentukan pilihan.

Suatu hari jelang winter break, setelah membuat janji bertemu, saya datang ke ruangan beliau. Sebenarnya ini pertemuan kedua kami. Di situ saya menyampaikan kesediaan saya untuk mengerjakan topik yang relatif baru di divisi risetnya. Profesor berusia 62 tahun itu pun menyambut hangat. Sebelum pulang, saya diberikan print out laporan tesis dan sebuah artikel ilmiah yang terkait. Tanpa tahu bahwa semua takkan berjalan sesuai rencana.

 

Tentang Suka yang Menyenangkan

Secara garis besar, tesis saya tentang material tekstil penyerap cairan dimana produk di pasar saat ini masih berbahan sintetis yang kurang ramah lingkungan, sehingga saya mencoba untuk menelitinya dengan bahan yang lebih ramah lingkungan. Tata letak divisi berbentuk koridor panjang dimana satu sisi adalah ruangan kerja dan sisi lain adalah laboratorium. Ada dapur dan ruang makan di tengah koridor. Satu ruang kerja diisi 3-8 orang.

Anggota divisi merupakan kumpulan orang berbagai latar belakang. Selain negara asal, jenjang akademis juga beragam, antara lain PhD student, post-doctoral, visit researcher, dan lain-lain. Semuanya orang pintar dengan spesifikasi keahlian masing-masing. Kita mungkin tidak paham detil topik yang dikerjakan satu sama lain, namun bisa berbagi tentang topik masing-masing sehingga tercapai titik temu untuk diskusi dan kolaborasi.

Salah satu yang menyenangkan adalah saya berkesempatan menggunakan peralatan yang belum pernah saya pakai sebelumnya. Di kampus, setiap pengguna alat yang belum punya pengalaman akan diberi pelatihan lebih dulu dan diberi lisensi. Jika setelahnya masih kurang yakin, saat pakai alat bisa minta bimbingan. Setelah pakai alat, kondisi apapun harus dicatat dalam buku. Jangan merasa sok tahu, itu pesan yang selalu disampaikan.

Gambar 2. Satu dari Sejumlah Peralatan yang Digunakan (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Sepekan sekali ada group meeting di divisi riset. Undangan dikirim oleh head of division yang juga merupakan supervisor saya via email, memberi tahu waktu, tanggal, dan tempat. Bisa pagi, siang, atau sore hari. Pertemuan diawali dengan membahas good news seperti info seminar, konferensi, publikasi, temuan baru, dan lain-lain. Lalu disambung bad news seperti kerusakan alat, kontaminasi zat kimia, masalah kebersihan, dan lain-lain.

Setelah itu, dilanjutkan presentasi. Salah seorang anggota divisi memberi pemaparan atas perkembangan topik risetnya. Menjadi ajang untuk tanya jawab dan saling memberi masukan konstruktif. Selain group meeting, ada juga jadwal fika, kalau di tempat saya tiap hari Kamis. Keakraban juga terjalin saat ada sidang mahasiswa doktoral. Jika ada doctoral defense, semua anggota divisi menyempatkan hadir dan sejenak meninggalkan rutinitas.

Gambar 3. Sidang Mahasiswa Doktoral Anggota Divisi Riset (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Iklim akademik yang lebih kondusif bisa dibilang hal yang menyenangkan dari tesis di kampus. Sesimpel apa pun, komunikasi jadi kunci utama, sebab kita tidak akan dibantu jika tidak meminta bantuan. Begitu juga saya, sesekali bertanya dan minta tolong ketika ada yang belum dimengerti. Di balik ragam hal yang ada, semua saling mendukung satu sama lain. Termasuk ketika sedikit banyak tesis saya menemui sejumlah kendala.

Tentang Duka yang Menyedihkan

Saya sebelumnya berkisah, saat musim panas masih mengerjakan tesis. Ada hal-hal yang terjadi begitu saja dan tak terbayang sebelumnya. Supervisor menunjuk seorang PhD student, sebut saja X, untuk menjadi pembimbing saya juga. Sosoknya pintar, tapi kurang kooperatif. Nyaris bilang sibuk ketika saya mau bertanya atau ingin diskusi. Meski akhirnya meluangkan waktu, gayanya selalu cepat dan terburu-buru. Saya tidak berharap banyak

Saya jadi lebih sering bertanya, diskusi, dan minta booking alat kepada PhD student dan researcher lain. Sampai akhirnya, mereka tahu kendala saya dan X, lalu memberi saran minta supervisor mengganti X dengan PhD student lain. Namun menurut supervisor, X adalah yang paling ahli untuk topik saya dan banyak metode dalam topik saya yang merupakan hasil kerja X. Tidak ada pilihan, saya harus melanjutkan tesis dengan atau tanpa X.

Saya bersyukur karena orang-orang di divisi selalu terbuka membantu dan mendukung saya apapun kondisinya. Ada satu orang, sebut saja Y, yang menghubungkan saya dengan seseorang di divisi lain, sebut saja Z. Meski tidak satu divisi riset, Z punya keahlian tentang bahan yang saya coba dalam tesis, walau kurang detil. Kami jadi sering diskusi bareng, sesekali Y juga memastikan apakah tesis saya berjalan baik bersama Z.

Gambar 4. Satu dari Beberapa Ruang Laboratorium Kampus (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Kendala lain selanjutnya datang. Ada satu-dua alat yang berkali-kali rusak. Jarang yang menggunakan alat-alat ini, sehingga tidak banyak yang mengerti cara kerjanya. Supervisor memang membantu, tapi kalau berkali-kali rusak, bukankah terus makan waktu? Belum juga masalah alat selesai, masalah bahan baku datang. Saya ingat hari itu X sampai berkata kasar akibat bahan habis karena ada yang menggunakan dalam jumlah besar.

Orang itu tidak bilang dulu kalau mau pakai banyak sehingga membuat kacau jadwal pengadaan bahan. Berminggu tanpa kejelasan. Tidak bisa menunggu lama, saya menawarkan diri untuk ikut melakukan proses pengadaan bahan. Padahal proses ini tidak ada dalam job description sebagai mahasiswa master, namun mau tidak mau saya ikut turun tangan juga. Berbulan setelahnya, kejadian tersebut terulang kembali. Bahan habis lagi.

Di samping itu, saat mengerjakan tesis, saya masih memiliki beberapa mata kuliah yang belum lulus, sehingga perlu melaksanakan re-exam. Lagi dan lagi. Tentu hal ini menyita waktu, menguras pikiran, dan memforsir energi. Namun beginilah realita belajar di luar negeri, ada hal-hal yang tidak dikatakan kepadamu sebelumnya. Salah satunya, ujian tertulis yang relatif sulit untuk lulus mata kuliah walau sudah belajar sebaik mungkin.

Gambar 5. Berkali-kali Eror di Tengah Analisis Sampel (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Kendala berikutnya, hasil eksperimen tidak sesuai perkiraan. Meski menurut literatur, bahan yang saya coba berpeluang besar bisa jadi alternatif solusi, pada kenyataannya tidak. Bahkan supervisor juga tidak menyangka bahwa hasilnya tidak sesuai perkiraan. Topik ini benar-benar baru ide awal, belum ada yang mencoba. Sebatas metodenya saja yang pernah dicoba, namun bahannya belum pernah. Berhenti sampai di situ? Tidak.

Let’s change our strategy,” saya takkan lupa kalimat supervisor hari itu. Hari dimana saya bisa memilih selesai, namun tetap bersedia melanjutkan. Babak baru dengan bahan baru dimulai, namun hasilnya tetap belum sesuai walau berkali-kali percobaan. Hingga suatu hari, seorang PhD student berkata bahwa jangan mempersulit diri, sembilan bulan sudah cukup. Tidak masalah apapun hasilnya, yang terpenting belajar sesuatu dan jangan terlalu memaksa. Saya pun mencukupkan semua dan menyelesaikan laporan sampai defense.

Epilog

Apapun yang telah terjadi, studi lanjut di Swedia merupakan karunia Tuhan yang luar biasa di hidup saya. Selain berdinamika akademis seperti kunjungan perusahaan, kolaborasi riset, dan menjadi perwakilan, saya juga dapat pengalaman nonakademis seperti jelajah alam, kesenian daerah, dan menjadi muslim di negara bukan mayoritas beragama Islam. “Someday you’ll look back on all these days, and all this pain is gonna be invisible,” persis kata Hunter Hayes dalam lagunya Invisible. Ketika melihat lagi ke belakang, saya ternyata sudah sejauh ini. Dan selepas tesis, kini saatnya melangkah menuju kehidupan yang baru.

Akhir cerita, terima kasih sudah membaca, sampai jumpa di lain waktu ya.

Ahmad Satria Budiman
S1 Teknik Kimia – Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta
S2 Macromolecular Materials – Royal Institute of Technology (KTH), Stockholm

Editor: Ria Ratna Sari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *